Buku Besar yang Berdarah
Debu beterbangan saat Li Wei menarik paksa panel kayu di balik lemari pajangan ruang tengah. Udara di rumah ini terasa pengap, tercekik oleh aroma dupa cendana yang telah meresap ke dalam serat dinding selama puluhan tahun. Di luar, bising pasar Pecinan yang biasanya terasa seperti latar belakang yang menenangkan, kini terdengar seperti derap kaki orang-orang yang menagih janji.
Tangannya gemetar. Sejak pemakaman ayahnya dua hari lalu, Li Wei telah mencoba membujuk dirinya sendiri bahwa ia hanyalah tamu—anak yang sudah lama memutus rantai keluarga. Namun, dokumen pengalihan hak yang disodorkan Paman Chen kemarin membuktikan sebaliknya: namanya tertera sebagai penjamin utama atas utang yang bahkan tidak ia pahami. Sebuah sentakan pada panel kayu terakhir memperlihatkan rongga gelap. Bukan tumpukan uang atau perhiasan, melainkan sebuah buku besar bersampul kulit hitam dengan tekstur retak-retak yang terasa dingin di jemarinya.
Begitu ia membukanya, bau kertas tua dan tinta yang memudar memenuhi indra penciumannya. Lembar pertama bukan berisi angka keuntungan toko, melainkan deretan nama dengan tinta merah yang tajam, hampir seperti bekas goresan kuku. Di halaman paling bawah, di bawah nama mendiang ayahnya, tertulis namanya sendiri: Li Wei. Sebuah janji darah.
“Jangan diteruskan.”
Suara parau itu memecah kesunyian. Mei Ling berdiri di ambang pintu belakang yang terhubung ke gang sempit. Wajahnya pucat, matanya terpaku pada buku di tangan Li Wei seolah benda itu adalah bom yang siap meledak.
“Ayah meninggalkan utang yang bukan milikku, Mei Ling,” Li Wei mengeraskan rahang, menahan amarah yang mulai membuncah. “Aku tidak akan membiarkan properti ini disita oleh orang-orang yang bahkan tidak tahu bagaimana cara mengelola toko ini.”
“Ini bukan sekadar utang uang,” bisik Mei Ling, melangkah masuk dengan hati-hati. “Ini adalah daftar loyalitas. Sekali kau membuka halaman berikutnya, kau bukan lagi sekadar tamu di Pecinan. Kau adalah bagian dari jaringan yang tidak pernah melepaskan anggotanya. Jika kau melangkah keluar dari pintu itu sekarang dengan buku itu, kau akan diburu.”
Li Wei mengabaikan peringatan itu dan membalik halaman. Napasnya tertahan. Ini bukan catatan utang toko kelontong biasa; ini adalah peta jalan menuju kehancuran yang terorganisir. Setiap baris mencatat nama penduduk Pecinan yang ia kenal—tukang roti di ujung jalan, pemilik toko tekstil, bahkan keluarga Mei Ling. Di samping nama mereka, tertulis angka nominal yang diikuti oleh inisial ayahnya dan stempel lilin merah. Ayahnya bukan sekadar pedagang; ia adalah perantara utang bagi jaringan bawah tanah yang jauh lebih besar.
“Ayah, apa yang sebenarnya kau bangun di sini?” bisik Li Wei. Suaranya pecah. Ia menyadari bahwa properti ini—rumah yang selama ini ia anggap sebagai beban yang ingin ia jual—ternyata adalah jaminan kolektif. Jika ia menjual rumah ini, ia secara otomatis melikuidasi perlindungan bagi puluhan keluarga di Pecinan. Ia akan menjadi orang yang menghancurkan kedok mereka semua.
“Letakkan itu, Wei.”
Suara berat Paman Chen memutus lamunannya. Pria itu berdiri di ambang pintu depan, punggungnya tegak, tangan kanannya tersembunyi di balik lipatan cheongsam yang rapi. “Itu bukan barang yang pantas dipegang oleh orang yang bahkan tidak tahu cara menghormati leluhurnya.”
“Saya sudah membacanya, Paman. Ini bukan catatan warisan. Ini daftar transaksi yang membuat rumah ini bukan lagi milik keluarga, tapi milik jaringan yang tidak ingin dikenal publik,” tantang Li Wei, mendekap buku itu ke dadanya.
Paman Chen melangkah maju. Langkahnya mantap, tanpa keraguan. “Kau terlalu muda untuk memahami bahwa kehormatan keluarga tidak diukur dari kejujuran, melainkan dari seberapa baik kita menjaga rahasia agar tetap terkubur. Serahkan buku itu, dan aku akan memastikan namamu dihapus dari daftar penjamin.”
“Dengan harga apa?”
Paman Chen tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menerjang maju dengan kecepatan yang tidak terduga, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Li Wei dengan kekuatan yang menyakitkan. Perebutan itu kasar dan tanpa basa-basi, membuktikan bahwa bagi Paman Chen, buku itu bukan sekadar kenangan—itu adalah kunci kekuasaan yang harus diamankan, atau dihancurkan.