Warisan di Balik Pintu Terkunci
Aroma dupa cendana yang pekat menyambut Li Wei begitu ia mendorong pintu kayu jati rumah keluarga di ujung gang Pecinan. Bau itu bukan sekadar wangi; itu adalah aroma masa kecil yang menyesakkan, pengingat akan janji-janji yang tak pernah ditepati dan tuntutan yang selalu membayang. Li Wei menarik napas pendek, mencoba menepis rasa sesak yang merayap di dadanya. Ia datang bukan untuk mengenang, melainkan untuk mengakhiri. Pemakaman ayahnya telah usai kemarin, dan hari ini ia hanya perlu mengurus dokumen properti agar tempat ini bisa segera dijual. Setelah itu, ia akan kembali ke kehidupan lamanya—kehidupan di mana namanya tidak dikaitkan dengan utang darah atau reputasi keluarga yang memudar.
"Kau terlambat kembali, Wei," sebuah suara parau memecah kesunyian.
Paman Chen berdiri di sudut ruangan, bayangannya memanjang di lantai yang berdebu. Pria itu mengenakan cheongsam sutra yang tampak terlalu mewah untuk rumah yang hampir runtuh ini. Senyumnya lebar, namun matanya tidak ikut tersenyum. Dingin dan penuh perhitungan.
"Saya hanya di sini untuk pemakaman, Paman. Setelah itu, saya akan menjual properti ini dan kembali ke kota," jawab Li Wei datar. Ia berjalan menuju altar abu ayahnya, mengabaikan tatapan tajam Paman Chen yang mengikuti setiap gerakannya.
Di bawah altar, di antara tumpukan kertas sembahyang yang mulai menguning, Li Wei melihat sesuatu yang ganjil. Sebuah amplop cokelat kusam terselip di balik dudukan kayu. Saat ia menariknya keluar, Paman Chen melangkah maju, langkah kakinya terdengar seperti gesekan pisau di atas kayu lapuk.
"Menjual? Oh, Nak. Rumah ini bukan sekadar aset. Ini adalah pusat dari janji yang sudah diikat dengan darah selama puluhan tahun. Kau tidak bisa begitu saja pergi dan memutus rantai yang mengikat Pecinan ini," ujar Paman Chen. Ia menyodorkan sebuah dokumen tebal di atas meja. "Tanda tangani ini. Pengalihan hak pengelolaan. Aku bisa membantumu melunasi sisa-sisa urusan ayahmu."
Li Wei tidak menyentuh dokumen itu. Ia membuka amplop cokelat di tangannya. Isinya bukan sertifikat tanah, melainkan buku besar dengan sampul kulit yang sudah retak, berisi daftar nama dan angka-angka yang ditulis dengan tinta merah.
"Paman, saya tidak tertarik pada janji darah. Saya tertarik pada kebebasan saya sendiri," potong Li Wei. Ia menyambar tas kerjanya, mengabaikan aroma dupa yang kini terasa mencekik, dan melangkah lebar menuju pintu keluar.
Namun, saat ia mendorong pintu kayu jati itu hingga terbuka, dunianya tidak langsung beralih ke jalanan kota yang sibuk. Di depan ambang pintu, tiga pria berjaket kulit hitam berdiri membelakangi jalan. Mereka menoleh serempak, menatap Li Wei dengan tatapan yang tidak mengandung sapaan, melainkan perhitungan.
“Kau mau pergi ke mana, Wei?” suara salah satu pria, yang memiliki bekas luka melintang di alis kirinya, terdengar berat dan datar.
Pria itu mengeluarkan selembar kertas yang sudah lusuh di bagian tepinya dan menempelkannya ke dada Li Wei. “Ini bukan urusan pribadi. Ini urusan yang tertanam di fondasi rumah ini sejak sebelum kau lahir.”
Li Wei menunduk, matanya membelalak saat melihat daftar hitam di kertas itu. Di urutan paling atas, tertulis nama ayahnya, diikuti dengan nominal utang yang mustahil dibayar—dan di bawahnya, tertulis nama Li Wei sebagai ahli waris sah yang kini terikat secara hukum dan darah pada utang tersebut. Napasnya tercekat; ia bukan lagi orang asing yang hanya singgah. Ia adalah bagian dari daftar itu.