Novel

Chapter 8: Di Bawah Altar

Li Wei berhasil membuka brankas rahasia di bawah altar, menemukan bukti pengkhianatan Paman Chen yang menyebabkan kematian orang tua Mei Ling. Saat rumah dikepung, mereka melarikan diri melalui lorong rahasia, mengubah status Li Wei dari orang luar menjadi target utama jaringan.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Di Bawah Altar

Debu halus beterbangan saat Li Wei menekan stempel naga ke ceruk tersembunyi di bawah meja altar. Bunyi klik mekanis yang berat menggema di ruang tengah yang pengap, memecah kesunyian malam. Di luar, suara sepatu bot menghantam kerikil halaman depan. Pintu kayu tua itu berderit, menerima hantaman keras yang membuat bingkainya bergetar hebat.

"Cepat, Wei," bisik Mei Ling. Napasnya terengah, matanya terpaku pada pintu depan yang sebentar lagi akan jebol. "Mereka tidak akan berhenti sampai mendapatkan stempel itu."

Li Wei tidak menjawab. Fokusnya tersedot sepenuhnya pada lantai kayu di bawah altar yang perlahan bergeser, menyingkap kompartemen gelap yang selama puluhan tahun terkunci rapat. Ia merogoh ke dalam, jari-jarinya menyentuh permukaan kulit buku besar yang dingin dan tumpukan dokumen yang diikat tali merah. Saat ia menariknya keluar, aroma dupa tua yang tajam bercampur dengan bau apek kertas lama menusuk indra penciumannya.

Ia membuka lipatan kertas teratas. Matanya membelalak. Itu bukan sekadar catatan utang keluarga. Di sana, tertulis detail transaksi gelap yang melibatkan Paman Chen—bukti otentik bahwa sang paman telah menjual nama jaringan untuk kepentingan pribadinya, termasuk pengkhianatan yang menyebabkan hilangnya orang tua Mei Ling.

"Li Wei, lihat ini," bisik Mei Ling, suaranya pecah saat ia menunjuk nama orang tuanya dalam daftar 'korban' yang dikhianati Paman Chen. "Mereka tidak menghilang karena kecelakaan. Mereka dieksekusi karena Paman Chen tidak bisa menutupi defisit dana jaringan yang ia curi sendiri."

Li Wei membaca cepat. Matanya menyusuri baris-baris pengakuan dosa ayahnya yang mengungkap bagaimana Paman Chen memanipulasi setiap utang penduduk Pecinan, menjadikannya pion dalam permainan kekuasaan yang lebih besar. Ayahnya bukan sekadar algojo; ia adalah saksi yang mencoba menyimpan bukti ini sebagai asuransi, namun akhirnya terjebak dalam jebakan yang ia bangun sendiri.

Tepat saat itu, pintu depan jebol. Suara langkah kaki sepatu bot memenuhi lorong rumah.

"Matikan lampunya!" perintah Li Wei. Ruangan itu seketika tenggelam dalam kegelapan pekat. Tiga pria berjaket kulit masuk dengan langkah yang tidak lagi disembunyikan. Li Wei menggunakan ingatan masa kecilnya tentang tata letak rumah untuk bergerak dalam bayang-bayang, menuntun Mei Ling menuju dinding di balik altar. Ia ingat ayahnya sering membicarakan lorong di balik dinding ini sebagai jalur evakuasi terakhir.

"Masuk," perintah Li Wei. Ia menekan panel kayu yang menyembunyikan tuas rahasia. Dinding itu bergeser, menyingkapkan celah gelap yang berbau apek. Saat mereka menyelinap masuk, Li Wei memutar kenop tersembunyi untuk menutup kembali dinding itu tepat saat para penyusup mencapai ruang altar. Di dalam lorong yang sempit dan pengap, Li Wei menyadari bahwa ia tidak bisa lagi menjadi orang luar. Ia kini adalah pemegang rahasia yang paling dicari, dan Paman Chen akan memburu mereka sampai ke ujung dunia. Mereka muncul di gang gelap Pecinan dengan bukti di tangan, menyadari bahwa setiap langkah yang mereka ambil sekarang adalah perang terbuka melawan jaringan yang selama ini mengikat mereka.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced