Harga Sebuah Kebenaran
Bau dupa yang tajam menyengat hidung Aris, menusuk hingga ke tenggorokan. Di balik altar kayu jati yang tampak megah namun penuh noda lapuk, Aris menarik napas panjang. Tangannya yang gemetar menggenggam kunci perak yang ia temukan di balik bingkai foto leluhur. Dengan satu gerakan mantap, ia memutar kunci itu pada lubang tersembunyi di dasar altar. Bunyi klik mekanis terdengar sumbang di tengah kesunyian ruang itu. Brankas itu terbuka, menyingkap tumpukan berkas yang menguning dengan segel lilin merah yang retak.
Aris menarik lembaran paling atas: Surat Penangguhan Utang Nyawa. Matanya memindai tulisan t
Preview ends here. Subscribe to continue.