Malam Penentuan
Aula Leluhur tidak pernah terasa sedingin ini. Di bawah cahaya temaram lampu gantung kuno, aroma dupa cendana yang pekat seolah mencekik, menekan napas Aris hingga ke tenggorokan. Di depannya, Koh Aheng duduk dengan punggung tegak, jemarinya mengetuk meja kayu hitam—sebuah ritme yang bukan lagi sekadar kebiasaan, melainkan hitungan mundur bagi kesabaran Aris.
"Kau pikir dengan membocorkan kesepakatan pengembang, kau bisa memenangkan hati para tetua?" Aheng bersuara, berat d
Preview ends here. Subscribe to continue.