Kembali ke Akar
Aroma dupa cendana yang pekat dan manis menyesakkan paru-paru Aris, seolah ruangan itu sengaja dirancang untuk memeras napasnya hingga habis. Ia duduk di kursi kayu jati yang dingin dan keras, dengan tangan yang kini terikat di balik sandaran. Di depannya, Koh Aheng duduk dengan punggung tegak, jemarinya yang kasar memutar cincin giok—sebuah gerakan ritmis yang terasa seperti hitungan mundur bagi nyawa Aris. Di sekeliling meja bundar, empat tetua komunitas menatapnya dengan mata yang tajam, dingin, dan penuh tuntutan. Mereka bukan sekadar orang tua; mereka a
Preview ends here. Subscribe to continue.