Pilihan di Persimpangan Jalan
Aroma kopi tubruk yang pekat bercampur wangi dupa murahan di Kedai Sinar Harapan terasa seperti jerat yang mencekik. Pagi ini, Pecinan tidak menyambut Aris dengan keramahan, melainkan dengan tatapan warga yang seolah tahu bahwa paspor di saku jaket Koh Aheng adalah satu-satunya alasan pria itu masih tertahan di sini. Aris menekan telapak tangannya ke meja kayu yang lengket, berusaha menahan getar di jemarinya.
"Saya datang untuk paspor saya, Koh," ujar Aris, suaranya sedingin es. "Saya tidak punya urusan lagi dengan utang mendiang Ayah. Saya orang luar di sini,
Preview ends here. Subscribe to continue.