Buku Besar dalam Kegelapan
Lampu neon di mulut gang berkedip, memuntahkan cahaya biru pucat ke atas aspal yang lembap. Aris berhenti melangkah. Dua pria berjaket kulit—bukan polisi, bukan pula tetangga—berdiri menghalangi jalan keluar. Mereka tidak menghunus senjata, namun posisi tubuh mereka yang menutup akses ke jalan raya sudah cukup menjadi ancaman.
"Koh Aheng berpesan, Aris," ujar pria yang lebih tua. Suaranya datar, tanpa emosi, namun sarat dengan otoritas yang tidak bisa dibantah. "Udara di luar tidak sehat untuk seseorang yang membawa beban sebesar milikmu. Paspor itu... hanya jaminan agar kau tidak lupa jalan pulang."
Preview ends here. Subscribe to continue.