Surat Kematian dan Utang yang Tak Diundang
Bau dupa yang menyesakkan menyambut Aris tepat di ambang pintu rumah tua keluarga. Aromanya tajam, menusuk rongga hidung, mengingatkannya pada masa kecil yang selalu ingin ia kubur dalam-dalam. Di ruang tengah, peti kayu jati yang tertutup rapat menjadi pusat gravitasi, dikelilingi oleh kerabat yang menatapnya dengan tatapan dingin, seolah ia adalah orang asing yang baru saja merusak ketenangan sebuah ritual suci. Aris tidak datang untuk berduka. Ia datang untuk menyelesaikan urusan administrasi, menjual properti ini, dan kembali ke kota sebelum akhir pekan.
Namun, saat ia melangkah mendekati meja altar, Mei—sepupunya ya
Preview ends here. Subscribe to continue.