Jejak di Jalanan Hujan
Hujan di Chinatown malam ini bukan sekadar cuaca; ia adalah tirai yang menyembunyikan langkah-langkah berat di belakang Aris. Di balik jaketnya, buku besar bersampul kulit kusam itu terasa lebih berat dari biasanya, menekan tulang rusuknya dengan beban hutang yang bukan miliknya. Empat puluh delapan jam sebelum properti kakek disita, dan nama Aris—sebagai penjamin terakhir—kini terpatri permanen di baris terbawah daftar hutang darah itu.
Ia berhenti di depan sebuah toko penjahit tua yang papan namanya hampir lapuk dimakan rayap. Ini adalah alamat kedelapan dalam ledger, titik koordinat yang seharusnya menjadi penghubung jaringan keuangan kakeknya. Aris merogoh saku, mengeluarkan pita pengukur kakek yang ia curi dari meja kerja. Angka delapan di pita itu ditandai dengan tinta merah yang memudar, sebuah kode yang kini terasa seperti peringatan. Aris menatap etalase yang buram oleh embun, mencari tanda-tanda kehidupan di balik tumpukan kain sutra yang berdebu. Seharusnya ada lampu gantung kuning yang menyala, namun yang Aris temukan hanyalah keheningan yang mencekam. Tanda kayu bertuliskan 'Tutup' tergantung di balik pintu, namun ada sisa selotip yang menunjukkan tanda itu baru saja dipasang dengan terburu-buru.
Pintu kayu toko penjahit itu mengeluarkan derit panjang saat Aris mendorongnya. Debu beterbangan di bawah sorot lampu jalanan yang temaram, menari di udara yang berbau kain tua dan apak. Di tengah ruangan, meja potong besar tampak seperti altar yang ditinggalkan. Aris melangkah menuju laci kasir yang terbuka, tempat di mana kakeknya dulu menyimpan buku besar—ledger—yang kini menjadi beban hidupnya. Laci itu kosong. Hanya ada sisa-sisa sobekan kertas yang tertinggal, bukti bahwa seseorang telah menggeledahnya lebih dulu.
"Kau seharusnya tidak berada di sini, Anak Muda," sebuah suara serak memecah keheningan. Seorang pria tua, pemilik toko kain di seberang jalan, berdiri di ambang pintu. Tangannya gemetar, mencengkeram kusen pintu dengan buku-buku jari yang memutih. Matanya tidak menatap Aris, melainkan terpaku pada ledger di tangan Aris.
"Kakek saya meninggalkan ini sebagai warisan, bukan sebagai alat untuk kehancuran blok ini," jawab Aris tajam. Ia melangkah mendekat, membiarkan statusnya sebagai penjamin terakhir dalam daftar hutang darah itu terpancar dari sikap tubuhnya yang kaku. "Di mana pemilik toko ini? Dan mengapa ledger ini hanya berisi salinan?"
Pria tua itu menelan ludah, suaranya nyaris berbisik. "Mereka mengambil yang asli. Enforcer tidak hanya menginginkan properti, mereka ingin menghapus jejak bahwa kakekmu pernah menjadi bankir bagi kami semua. Jika kau memegang salinan itu, kau adalah target berikutnya. Mereka tidak akan membiarkan pewaris terakhir hidup untuk menagih janji yang sudah lama dikubur."
Aris tidak sempat membalas. Instingnya berdesir. Suara gesekan sepatu di atas beton basah di luar toko terdengar tidak sinkron dengan langkahnya sendiri. Aris berbalik, melihat bayangan di balik etalase toko obat herbal yang tutup. Pria itu berdiri di bawah naungan atap seng, diam, menunggu. Aris tidak menoleh lagi. Ia tahu siapa itu. Enforcer tidak sedang mengirim pesan lagi; ia sedang melakukan eksekusi.
Ia berbelok tajam ke lorong sempit di antara toko tekstil dan gudang tua. Lorong itu gelap, berbau lumut dan sampah yang membusuk, jalan tikus yang hanya diketahui oleh mereka yang tumbuh besar di sini. Aris berlari, sepatunya menghantam genangan air, menciptakan suara riuh yang memecah keheningan malam. Napasnya memburu, namun pikirannya bekerja lebih cepat. Ia membuka buku besar itu di sela langkahnya, mencari hubungan antara angka delapan dan nama-nama yang tercatat. Langkah kaki di lorong gelap mengikuti setiap gerakannya; ia tidak lagi sendirian di blok ini. Aris terpojok di ujung lorong yang buntu. Saat sang Enforcer mendekat, membiarkan cahaya lampu jalan menyinari tangannya yang terulur, Aris tertegun. Ia mengenali cincin di jari sang Enforcer—cincin yang sama dengan yang pernah dipakai ayahnya.