Topeng yang Retak
Cengkeraman Enforcer di kerah jaket Aris terasa seperti jerat besi. Di gang sempit di belakang toko penjahit, aroma kain tua yang lembap bercampur dengan bau hujan yang tertahan di dinding beton. Aris terdesak, punggungnya menghantam pipa saluran pembuangan yang berkarat hingga ngilu menjalar ke tulang belakangnya. Napasnya tersengal, namun matanya terkunci pada satu titik: jemari pria di depannya. Sebuah cincin perak dengan ukiran naga yang memudar melingkar di jari telunjuk sang Enforcer. Itu bukan perhiasan sembarangan. Ayah Aris pernah mengenakan cincin yang identik—sebuah simbol yang dulu Aris kira hanya aksesori biasa, namun kini tampak seperti stempel otorisasi sebuah sekte rahasia yang menghancurkan hidup keluarganya.
"Di mana ledger aslinya?" suara pria itu berat, tanpa emosi. "Jangan membuang waktu. Kamu bukan hanya pewaris toko ini, Aris. Kamu adalah jaminan terakhir dari hutang yang belum terbayar."
Aris mencoba melepaskan tangan itu, namun tenaganya jauh di bawah pria yang telah menghabiskan hidupnya sebagai penagih bagi jaringan kakeknya. "Kamu mengenalnya," desis Aris, suaranya parau. "Cincin itu. Kamu mengenali ayahku."
Enforcer itu terdiam sejenak, keraguan tipis melintas di wajahnya yang kaku sebelum ia menarik kerah Aris lebih keras. "Ayahmu adalah orang yang memulainya, dan kamulah yang akan mengakhirinya." Dengan satu sentakan kasar, pria itu melepaskan Aris, membiarkannya terjerembap ke genangan air, lalu menghilang ke dalam kabut malam Chinatown. Aris bangkit dengan gemetar, menyadari bahwa ia tidak sedang melawan orang asing, melainkan bayang-bayang masa lalu keluarganya sendiri.
Bau mesin jahit tua dan minyak pelumas menyengat hidung Aris saat ia membanting pintu toko. Di luar, hujan masih menderu, tapi di dalam, keheningan jauh lebih mematikan. Bibi Lian berdiri di balik meja potong, jemarinya yang gemetar sibuk merapikan pita pengukur kuning yang kusam.
"Aris, kau tidak seharusnya kembali ke sini," bisik Bibi Lian tanpa menoleh.
Aris melangkah mendekat, mengabaikan rasa lelah yang menghujam. Ia membanting salinan ledger yang ia curi dari brankas ke atas meja. "Enforcer itu tadi di gang. Dia memakai cincin yang sama dengan milik Ayah. Kakek bukan sekadar bankir, kan? Dia seorang penjaga. Dia mengikat nyawa setiap pemilik toko di blok ini dengan hutang darah yang tidak bisa dibayar dengan uang."
Bibi Lian akhirnya menatap Aris. Matanya cekung, dipenuhi ketakutan yang telah ia sembunyikan selama dua dekade. "Kakekmu tidak punya pilihan, Aris. Jaringan ini lebih tua dari imigrasi pertama yang membawa kita ke sini. Kita hanyalah pengelola, pion dalam sistem yang lebih besar. Nama kita di buku besar itu hanyalah jaminan agar roda hutang darah tetap berputar."
Aris merasa dunianya runtuh. Ia meraih pita pengukur milik kakeknya, melilitkannya di sepanjang balok lantai, mencari angka delapan yang terukir samar di kayu jati yang sudah menghitam. Saat ia menekan titik itu, sebuah mekanisme pegas berderit, membuka kompartemen tersembunyi di bawah lantai. Di dalamnya, tumpukan file imigrasi terikat rapi.
Aris membuka dokumen pertama. Itu adalah akta kepemilikan toko, namun nama yang tertera bukanlah nama kakeknya, melainkan nama sebuah perusahaan holding yang tidak dikenal. Ia membalik halaman berikutnya dan menemukan daftar nama pemilik toko lain di blok ini, dengan catatan hutang yang tertulis dalam tinta merah pekat.
File imigrasi itu membuktikan satu hal: keluarganya tidak pernah benar-benar memiliki toko ini.