Sumpah di Balik Pintu Terkunci
Debu di ruang belakang toko penjahit terasa menyesakkan, menari di bawah cahaya lampu neon yang berkedip sekarat. Aris mencengkeram buku besar bersampul kulit hitam itu dengan buku-buku jari yang memutih. Di hadapannya, Bibi Lian berdiri mematung, tangannya yang gemetar menggantung di udara, seolah baru saja mencoba merampas napas Aris, bukan sekadar buku.
"Lepaskan, Aris," suara Bibi Lian serak, nyaris berupa bisikan yang tertelan deru mesin jahit tua. "Itu bukan warisan. Itu daftar orang-orang yang menunggu giliran untuk jatuh. Kalau kamu membukanya, kamu sedang menandatangani surat kematianmu sendiri."
Aris tidak bergeming. Ia membalik halaman ledger itu dengan kasar. Barisan angka, nama-nama toko di sepanjang blok, dan nominal yang tertulis dengan tinta merah—semuanya bukan catatan bisnis biasa. Ini adalah peta hutang darah yang mengikat setiap pemilik toko di Chinatown. Dan di urutan terbawah, dengan tinta yang masih tampak segar, tertulis namanya sendiri: Aris Tan – Penjamin Terakhir.
"Kakek bukan penjahit," Aris memotong, suaranya dingin meski jantungnya berpacu hebat. "Dia penjaga buku ini. Dia yang mengatur siapa yang boleh bertahan dan siapa yang harus gulung tikar. Dan sekarang, Bibi mau bilang kalau aku adalah penggantinya?"
Bibi Lian melangkah maju, sorot matanya menunjukkan ketakutan yang murni. Ia menatap Aris dengan tatapan tajam yang menusuk. "Jika kamu membuka buku itu, kamu tidak akan pernah bisa pergi dari sini."
Aris tidak menjawab. Ia melangkah keluar dari toko, meninggalkan Bibi yang terisak pelan di balik rak kain. Udara di luar terasa lebih dingin. Di depan pintu kayu jati yang catnya mulai mengelupas, sebuah selebaran kuning mencolok mata. Peringatan Pengosongan Paksa dalam 48 Jam. Aris menyentuh kertas itu. Teksturnya kasar. Nama kakeknya tertera di sana sebagai penanggung jawab tunggal. Di ambang pintu, pita pengukur kuning milik kakeknya tergeletak dengan angka 'delapan' yang dilingkari spidol permanen. Itu bukan sekadar ukuran; itu adalah koordinat atau urutan dalam ledger.
Ia mencoba memverifikasi kode tersebut di toko Tuan Chen di ujung lorong, namun toko itu terkunci rapat dengan tumpukan surat sita aset yang ditempel paksa. Saat Aris berbalik, ia merasakan kehadiran seseorang. Langkah kaki sepatu bot terdengar ritmis, mendekat dari arah jalan utama.
Aris menekan punggungnya ke dinding bata yang lembap, napasnya tertahan. Ia mendekap ledger itu di balik jaketnya. Langkah itu berhenti tepat di tikungan lorong.
"Aku tahu kau masih di sini, Aris," suara itu rendah, berat, dan tanpa nada ancaman yang dibuat-buat. Itu suara Enforcer yang ia temui kemarin. Aris menyadari satu hal yang menampar kesadarannya: pria ini sedang memburu jejak yang ditinggalkan kakeknya, jejak yang kini ada di tangan Aris.
Ia berhasil meloloskan diri kembali ke toko melalui pintu belakang, namun ia tidak bisa lagi bersembunyi. Di dalam kegelapan toko, ia kembali membuka halaman terakhir ledger. Nama kakeknya tercoret, dan namanya kini terpatri di sana sebagai jaminan.
"Kakek tidak pernah menabung untuk masa depanku, Bibi," ujar Aris dingin saat Bibi Lian kembali muncul dari bayang-bayang. "Dia menukarkanku untuk mempertahankan toko ini. Dan sekarang, aku akan mengambil alih tanggung jawab ini, bukan sebagai korban, tapi sebagai pemilik."
Bibi Lian terdiam, wajahnya pucat pasi. Aris tahu, dengan memegang ledger ini, ia telah menjadi bagian dari jaringan yang tidak akan melepaskannya. Di luar, langkah kaki di lorong gelap mengikuti setiap gerakannya; ia tidak lagi sendirian di blok ini, dan ancaman nyata kini berada tepat di depan pintu.