Jejak di Balik Etalase
Bau apek kain sutra tua dan minyak mesin jahit menyambut Aris saat ia melangkah masuk ke 'Sinar Abadi'. Toko itu bukan sekadar tempat usaha; itu adalah labirin memori yang disesaki gulungan kain kusam dan pola baju yang menguning. Pak Liem, lelaki renta dengan kacamata tebal yang melorot, tidak mendongak. Tangannya yang gemetar tetap sibuk menggerakkan kain di bawah jarum mesin yang berderit ritmis, seolah mengabaikan kehadiran Aris.
"Saya tahu Anda ada di sini, Pak Liem. Ledger itu bukan sekadar catatan utang," suara Aris memotong deru mesin. Ia meletakkan kunci kuningan yang berat di atas meja potong kayu yang penuh goresan. Logam itu beradu dengan permukaan meja, menciptakan bunyi denting tajam yang membuat mesin jahit berhenti seketika.
Pak Liem perlahan mengangkat kepala. Matanya yang keruh menatap kunci itu, lalu beralih ke wajah Aris dengan kilatan ketakutan yang tak bisa disembunyikan. "Anak muda, kau seharusnya tidak membawa benda itu ke sini. Kunci itu bukan untuk membuka pintu, itu adalah undangan untuk menutup hidupmu sendiri."
Aris mencengkeram tepi meja, merasakan tekanan waktu yang kian mencekik. Empat puluh delapan jam. "Koko Hendra sudah memberikan ultimatum. Saya butuh tahu apa yang disembunyikan Ayah di gudang pelabuhan. Kunci ini aksesnya, bukan?"
Pak Liem menarik napas dalam, seolah sedang menimbang apakah nyawa lebih berharga daripada sumpah bisu yang telah ia jaga selama puluhan tahun. Ia menarik sepotong kain sutra hitam dari laci bawah meja, lalu menyerahkannya pada Aris. Di balik kain itu, tertulis kode angka dan koordinat yang membuat napas Aris tercekat.
"Ayahmu bukan debitur, Aris," bisik Pak Liem parau. "Dia adalah penyimpan rahasia bagi orang-orang besar di kota ini. Dia tidak berutang; dia memegang kunci dari tatanan yang mereka bangun di atas kehancuran orang lain. Dia sedang menyembunyikan sesuatu milik mereka, bukan miliknya sendiri."
Aris keluar dari toko dengan kepala berdenyut. Saat ia berbelok ke lorong di antara dua bangunan ruko yang lembap, instingnya berteriak. Seseorang dengan jaket gelap baru saja keluar dari bayang-bayang, langkahnya terlalu terukur untuk sekadar pejalan kaki. Itu orang suruhan Koko Hendra.
Aris tidak menoleh. Ia mempercepat langkah, menyusuri celah sempit di antara toko obat tradisional yang aromanya menyengat dan rumah makan yang masih sibuk dengan persiapan malam. Ia memanfaatkan labirin gang Pecinan yang ia kenal sejak kecil—celah sempit di balik tempat sampah, pintu belakang yang terkunci, dan tangga darurat yang berkarat. Ia menjebak penguntit itu di lorong buntu pasar basah, membiarkannya kebingungan di antara tumpukan peti kosong, sementara Aris sudah menghilang di balik kerumunan pembeli.
Ia tiba di rumah dengan napas memburu. Tanpa mengetuk, ia menerobos masuk ke ruang belakang toko keluarga. Tante Mei duduk di balik meja kasir kayu jati, matanya tertuju pada buku besar yang terbuka. Ia tidak mendongak, namun bahunya menegang saat Aris membanting potongan kain bersulam benang perak ke atas meja.
"Ayah tidak berutang, Tante," suara Aris rendah, menahan getaran amarah. "Dia penyimpan rahasia. Dan sekarang, rahasia itu membuat namaku terdaftar sebagai penjamin di ledger utama. Mengapa Ayah mempertaruhkan rumah ini, toko ini, dan namaku untuk sindikat itu?"
Tante Mei berdiri, tangannya mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya yang biasanya tenang kini pucat pasi. "Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan, Aris. Simpan kain itu. Jangan pernah tunjukkan pada siapa pun."
"Koko Hendra sudah tahu!" Aris mendekat, suaranya naik satu oktaf. "Dia memberiku empat puluh delapan jam. Bukan untuk melunasi utang, tapi untuk menyerahkan isi gudang pelabuhan. Katakan padaku, apa hubungan semua ini dengan kematian Ayah?"
Tante Mei terdiam lama. Keheningan itu terasa lebih berat daripada pengakuan apa pun. Akhirnya, ia menatap Aris dengan mata yang berkaca-kaca. "Kematian ayahmu bukan kecelakaan, Aris. Itu adalah harga yang harus dibayar karena dia mencoba memindahkan isi ledger itu agar kau tidak pernah terlibat. Dia tidak mati karena utang, dia mati karena dia tahu terlalu banyak tentang siapa yang sebenarnya memegang kendali atas kota ini."