Novel

Chapter 3: Harga Sebuah Nama

Aris menghadapi Koko Hendra yang memberikan ultimatum 48 jam terkait isi brankas yang hilang. Penyelidikan Aris membawanya ke Pak Liem, yang mengungkapkan bahwa ayahnya bukanlah debitur, melainkan penyimpan rahasia pihak lain di gudang pelabuhan. Aris kini terjebak antara menyelamatkan reputasi atau mengungkap kebenaran yang berbahaya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Harga Sebuah Nama

Debu menari di bawah cahaya lampu neon yang berkedip, menyinari etalase toko kain yang kini terasa seperti penjara. Aris tidak perlu menoleh saat pintu kayu itu berderit. Aroma kretek yang tajam—aroma yang sama dengan yang menempel di lembar-lembar ledger ayahnya—mendahului kehadiran Koko Hendra.

"Empat puluh delapan jam, Aris," suara Hendra rendah, namun memiliki bobot yang mampu menekan udara di ruangan itu. Ia berdiri di ambang pintu, kemeja batik sutranya tampak ganjil di antara tumpukan kain yang mulai dimakan rayap. "Bukan untuk mengumpulkan uang receh. Kembalikan apa yang seharusnya ada di dalam brankas itu."

Aris meremas kunci kuningan di saku celananya hingga logam dingin itu menekan kulit telapak tangannya. "Isinya kosong saat aku menemukannya, Koko. Kau tahu itu."

Hendra tertawa, suara yang lebih mirip gesekan amplas. Ia melangkah masuk, melewati meja potong kayu yang penuh bekas guntingan—saksi bisu dari masa kejayaan ayahnya sebagai pusat kliring utang komunitas. "Kosong? Ayahmu tidak akan membangun jaringan utang sebesar ini hanya untuk meninggalkan brankas kosong bagi anaknya yang baru pulang dari luar negeri. Jika kau tidak menemukannya, namamu yang tertulis di ledger utama itulah yang akan terseret ke pengadilan publik. Bukan hanya toko ini yang akan disita, tapi martabatmu sebagai pewaris akan hancur sebelum kau sempat memulainya."

Sepeninggal Hendra, Aris segera beralih ke ruang belakang. Ia menggeser panel dinding yang menyembunyikan brankas, lalu membuka ledger kulit tua di tangannya. Jantungnya berdegup kencang. Di kolom penjamin, namanya tertulis dengan tinta yang tampak lebih segar dibanding catatan lainnya. Ia membalik halaman, namun jemarinya berhenti. Tiga lembar kertas di bagian tengah telah dirobek dengan kasar. Bekas sobekan itu menyisakan serat-serat kertas yang seolah berteriak akan rahasia yang sengaja dimusnahkan. Ia menelusuri kode-kode samar di pinggiran halaman; ini bukan sekadar utang dagang, melainkan daftar 'titipan' rahasia para tokoh berpengaruh di Pecinan yang disamarkan dengan sandi alfabet. Ayahnya bukan sekadar pedagang kain; ia adalah bankir bayangan.

Aris bergegas mendatangi bengkel jahit Pak Liem di sudut blok. Bau apak kain tua menyambutnya. Pak Liem, pria tua dengan kacamata tebal, terus menjalankan mesin jahit Singer-nya tanpa mendongak. "Toko ayahmu sudah tutup sejak pemakaman, Aris. Jangan bawa masalah ke sini," gumamnya.

Aris tidak membuang waktu. Ia meletakkan kunci kuningan itu dengan kasar di atas meja potong. Logam itu berdenting, memotong suara mesin jahit yang tiba-tiba berhenti. Pak Liem menatap kunci itu, lalu menarik kain untuk menutupi benda tersebut dengan tangan gemetar. "Di mana kau dapatkan ini?" bisiknya parau.

"Di tempat yang seharusnya menjadi kunci rahasia keluarga, tapi ternyata kosong," jawab Aris menuntut. "Ayahku meninggalkan utang yang mengikat namaku. Katakan padaku, apa hubungannya dengan ini?"

Pak Liem menatap sekeliling dengan mata liar sebelum mencondongkan tubuh. "Kunci itu bukan untuk brankas di toko, Aris. Itu untuk lemari besi di gudang pelabuhan yang dikuasai kelompok Koko Hendra. Ayahmu tidak berutang pada mereka. Dia justru sedang menyembunyikan sesuatu milik orang lain—sesuatu yang sangat berharga sehingga pemilik aslinya lebih memilih membiarkan ayahmu mati daripada membiarkan rahasia itu terbongkar."

Aris tertegun. Jika ayahnya adalah penyimpan rahasia, maka ledger yang ia pegang adalah peta menuju kehancuran atau keselamatan. Saat ia kembali ke toko, segel hukum di pintu telah terkoyak. Koko Hendra sudah menunggu di dalam, duduk di kursi kasir dengan senyum predator.

"Waktu terus berjalan, Aris," ujar Hendra, matanya menatap tajam ke arah saku Aris yang menyembunyikan kunci itu. "Empat puluh delapan jam dari sekarang, jika brankas itu tetap kosong, aku tidak hanya akan menyita properti ini. Aku akan membuka lebar rahasia bahwa toko ini adalah pusat kliring utang terselubung yang telah mengkhianati seluruh komunitas ini. Pilihannya sederhana: serahkan kuncinya, atau saksikan namamu membusuk di jalanan Pecinan."

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced