Novel

Chapter 8: Pertemuan Para Tetua

Aris berhasil membongkar kedok Mei Ling di depan para tetua dengan bantuan testimoni Koh A-Hok, namun kemenangan tersebut memicu pembalasan fisik berupa sabotase toko.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Pertemuan Para Tetua

Aroma dupa cendana yang pekat menggantung di udara, bercampur dengan bau kayu jati tua dan debu yang tak pernah tersentuh sapu. Di ruang belakang toko antik ini, waktu seolah berhenti, namun tekanan di dada Aris justru kian menghimpit. Di hadapannya, lima tetua Pecinan duduk melingkar, wajah mereka adalah peta kerutan yang menyimpan sejarah blok ini—sejarah yang kini sedang dipertaruhkan.

Mei Ling berdiri di sudut, jemarinya yang lentik meremas tepi cheongsam sutra hitamnya hingga buku jarinya memutih. Matanya, yang biasanya memancarkan kehangatan palsu, kini menatap Aris dengan kebencian yang telanjang.

"Dia bukan orang kita," suara Mei Ling memecah kesunyian, tajam dan terukur. "Aris hanya datang untuk menghancurkan apa yang tersisa. Dia ingin menjual tanah ini kepada konsorsium, sementara kita semua tahu apa artinya itu bagi makam leluhur kita. Dia adalah orang luar yang membawa kehancuran."

Aris tidak membalas dengan kata-kata. Ia bisa merasakan tatapan curiga para tetua yang masih ragu, menimbang antara kesetiaan pada garis keturunan yang telah lama mereka kenal atau rasa takut akan penggusuran yang dijanjikan Mei Ling. Aris melangkah maju, meletakkan Buku Kas Merah dengan stempel kebesaran keluarga tepat di tengah meja. Suara debuman buku itu di atas kayu padat terdengar seperti palu hakim yang mengunci nasib mereka.

"Kalian bicara soal leluhur?" tanya Aris, suaranya tenang namun bergetar oleh beban yang ia pikul selama berhari-hari. "Maka lihatlah apa yang mereka tinggalkan. Ini bukan sekadar catatan hutang, ini adalah bukti bahwa Mei Ling telah memalsukan akta kematian untuk melegalkan pengambilalihan tanah ini demi konsorsium luar."

Mei Ling tertawa sumbang, namun ada getaran di bahunya. "Tuduhan kosong dari orang yang bahkan tidak tahu cara menghitung bunga hutang komunitas, Aris. Jangan buat dirimu terlihat lebih bodoh dari yang sudah kau tunjukkan."

Sebelum Aris sempat membalas, pintu ruang pertemuan didobrak kasar. Pria berjas abu-abu dengan potongan rambut militer melangkah masuk, mengabaikan tatapan tajam para tetua. Ia menatap Aris dengan senyum tipis yang merendahkan, tangannya merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan sebuah amplop tebal yang ia banting di atas meja.

"Cukup sandiwara ini," ujar pria itu, suaranya dingin dan berwibawa. "Kalian tidak punya waktu untuk mendengarkan dongeng pewaris yang baru pulang kemarin. Serahkan buku itu, atau blok ini akan rata dengan tanah sebelum matahari terbit besok."

Ketegangan memuncak. Para tetua mulai berbisik, terintimidasi oleh kehadiran pria asing tersebut. Aris menolak untuk mundur. Ia menatap pria itu tepat di mata, menyadari bahwa ketakutan adalah senjata utama mereka. Aris berdiri tegak, menggunakan status hukumnya sebagai pewaris untuk menolak kehadiran pria itu di ruang privat komunitas.

"Ini tanah kami," ujar Aris tegas. "Dan hukum di buku ini lebih kuat daripada ancaman kosongmu."

Saat para tetua tampak goyah, Koh A-Hok melangkah masuk dari bayang-bayang. Pria tua itu tidak lagi terlihat pikun. Ia membawa catatan tambahan yang mengungkap skema hutang yang sebenarnya. "Aris benar," suara Koh A-Hok serak namun memenuhi ruangan. "Keluarga Aris bukan arsitek kehancuran kita. Mereka adalah tumbal sistem yang dimanipulasi oleh pihak luar. Mei Ling bukan pelindung, dia adalah pion yang sedang diperas oleh konsorsium ini."

Keheningan total menyelimuti ruangan. Para tetua menatap Mei Ling dengan pandangan yang berubah dari curiga menjadi pengkhianatan. Dukungan itu telah bergeser. Aris resmi diakui sebagai pewaris yang sah. Namun, kemenangan itu terasa pahit saat ia kembali ke toko keluarganya beberapa jam kemudian. Etalase kaca hancur berkeping-keping, simbol bahwa perang administratif telah berubah menjadi kekerasan fisik yang nyata.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced