Pengkhianatan Terakhir
Bau kabel terbakar itu lebih tajam daripada aroma dupa yang biasanya memenuhi toko. Aris tersentak dari lamunannya di ruang belakang; buku kas merah bersampul kulit yang mulai mengelupas itu terasa berat di tangannya, seolah menyimpan beban seluruh blok Pecinan. Bukan sekadar debu, ini bau karet hangus yang merayap dari balik dinding kayu tua. Dengan langkah lebar, ia keluar dari ruang kerja, melewati etalase porselen yang retak akibat keributan semalam. Matanya tertuju pada celah lantai di sudut gudang bawah tanah. Asap tipis berwarna kelabu mulai mengepul, menari-nari dalam cahaya temaram lampu gantung yang berkedip.
"Mei Ling?" suara Aris bergema, berat dan penuh kecurigaan. Tidak ada jawaban, hanya suara gesekan logam yang kasar. Ia menuruni tangga kayu yang berderit, jantungnya berdegup kencang saat melihat sosok di bawah sana. Mei Ling, dengan rambut berantakan dan wajah pucat pasi karena putus asa, sedang menyiramkan cairan dari jeriken plastik ke tumpukan arsip tua di sudut ruangan. Di tangannya, sebuah korek api sudah terbuka, apinya menari-nari, siap melahap sejarah keluarga yang selama ini ia coba manipulasi.
"Kau sudah gila," desis Aris. Ia tidak lagi melihat sepupu yang dulu ia kenal sebagai sosok yang rapi dan terukur. Di hadapannya kini hanya ada sisa-sisa ambisi yang hancur. Mei Ling berbalik, matanya merah padam. "Ini semua milikku, Aris! Seharusnya aku yang memegang kendali, bukan kau yang baru datang kemarin sore dan merasa paling berhak atas segalanya!"
Aris tidak punya ruang untuk berdebat. Ia menerjang maju, menubruk bahu Mei Ling tepat saat wanita itu hendak melemparkan pemantik ke tumpukan manifes pengiriman. Keduanya jatuh ke lantai beton yang dingin. Suara barang-barang pecah di lantai atas terdengar—langkah kaki berat para antek konsorsium yang disewa Mei Ling kini sudah menembus lantai dasar toko. Mereka tidak lagi menyamar; mereka datang untuk mengambil apa yang tidak bisa mereka beli.
"Lepaskan!" teriak Mei Ling, mencakar lengan Aris. Aris mengabaikan rasa perih di kulitnya. Ia tahu jika buku kas ini hancur, klaim hukum tujuh hari itu hangus, dan seluruh keluarga di blok ini akan kehilangan tanah mereka. Ini bukan lagi soal warisan, ini soal keberlangsungan hidup orang-orang yang selama ini ia hindari namun kini terikat padanya.
Di lantai dasar, pria berjas dengan potongan rambut klimis—antek dari konsorsium—tengah mengacungkan surat penggusuran paksa, wajahnya datar menatap ke arah gudang. "Waktumu habis, Aris. Dokumen legal ini tidak peduli pada sentimen masa lalu," ucap pria itu, suaranya dingin memotong kebisingan malam. Di belakangnya, dua pria berbadan tegap mulai mendorong pintu kayu yang sudah retak. Aris tahu ia tidak bisa menang sendirian. Ia menarik napas dalam, lalu dengan sisa tenaganya, ia menghantamkan siku ke cermin tua yang menggantung di dinding ruang bawah tanah. Pecahannya berhamburan, menciptakan suara dentuman keras yang memekakkan telinga, sebuah sinyal bahaya yang tak bisa diabaikan oleh warga Pecinan.
Suara gesekan sandal di aspal memenuhi udara. Dari balik bayang-bayang toko barang antik, Koh A-Hok muncul, diikuti oleh tiga tetua komunitas yang membawa tongkat kayu. Wajah mereka keras, menolak tunduk pada tekanan formalitas hukum. "Di sini, hukum kami ditulis dengan tinta yang tidak bisa dihapus oleh kontrakmu," ujar Koh A-Hok, suaranya parau namun penuh otoritas. Puluhan warga Pecinan mulai mengepung toko, membuat para antek konsorsium terdesak mundur. Pria berjas itu terpaksa menarik diri, menyadari bahwa ia tidak bisa melawan massa yang kini memandang Aris bukan lagi sebagai orang asing, melainkan sebagai pelindung sah.
Api berhasil dipadamkan, namun toko keluarga mengalami kerusakan parah. Asap sisa kebakaran masih menggantung berat di langit-langit, beradu dengan aroma dupa yang kini bercampur bau kabel terbakar. Aris berdiri di tengah kekacauan, napasnya memburu. Di tangannya, buku kas merah itu selamat, meski hangus di beberapa bagian. Mei Ling telah pergi, melarikan diri ke dalam kegelapan lorong setelah usahanya membumihanguskan bukti pemalsuan gagal total. Kekalahannya meninggalkan jejak berupa kehancuran fisik yang nyata. Koh A-Hok melangkah mendekat, lalu mengeluarkan sebuah kunci besi tua dari saku bajunya. Ia meletakkannya di telapak tangan Aris. "Kau sudah membuktikan dirimu, Aris. Tapi ingat, menjaga warisan ini berarti harus bersiap hidup di antara reruntuhan." Aris menatap buku kas yang hangus di pinggirannya, menyadari bahwa ia tidak bisa lagi pergi; ia adalah penjaga baru Pecinan, dan pertempuran untuk masa depan komunitas ini baru saja dimulai.