Di Ujung Batas Waktu
Aroma kayu cendana di toko Koh A-Hok biasanya menjadi penawar stres, namun hari ini, ia terasa menyesakkan, bercampur dengan bau debu kertas tua yang lembap dan dinginnya keringat di tengkuk Aris. Ia meletakkan buku kas merah bersampul kulit itu di atas meja kayu jati yang penuh goresan. Tangannya bergetar, bukan karena takut, melainkan karena berat tanggung jawab yang baru saja ia sadari: keluarganya tidak pernah menjadi arsitek kehancuran blok ini, melainkan korban yang dipaksa menjadi tumbal oleh skema besar Mei Ling.
Koh A-Hok menatap buku itu seolah-olah ia sedang melihat bom waktu. Pria tua itu tidak menyentuhnya, hanya memutar-mutar manik-manik kayu di pergelangan tangannya dengan ritme yang lambat dan konstan. "Ini bukan sekadar catatan hutang, Aris," suara A-Hok parau, memecah keheningan yang mencekam. "Ini adalah daftar dosa yang dipalsukan. Jika kau membawanya ke depan para tetua, Mei Ling akan habis. Tapi komunitas ini... mereka akan terguncang hebat. Kau yakin ingin menjadi orang yang membuka kotak pandora ini?"
Aris menatap pantulan wajahnya sendiri di cermin tua yang tergantung di sudut toko. Wajahnya tampak asing, lebih keras dari Aris yang beberapa minggu lalu hanya ingin menjual toko dan kembali ke kehidupan korporatnya yang aman. "Mei Ling memalsukan akta kematian kerabat kita untuk melegalkan pengambilalihan tanah, Koh. Dia tidak hanya menjual masa depan kita, dia menghancurkan sejarah kita agar konsorsium itu bisa menguasai semuanya tanpa perlawanan. Aku tidak akan membiarkannya." Aris menarik napas panjang, menatap Koh A-Hok dengan keyakinan baru. "Aku tidak akan melarikan diri. Aku akan menghadapi para tetua malam ini."
Aroma dupa cendana yang menyengat di ruang belakang toko teh tua itu terasa seperti jerat yang mengikat leher Aris. Di hadapannya, tiga orang tetua duduk melingkar di atas kursi kayu jati yang berderit setiap kali mereka bergerak. Wajah mereka adalah peta keriput yang menyimpan sejarah Pecinan—sejarah yang kini sedang mereka serahkan ke tangan konsorsium luar karena rasa takut akan hutang yang membusuk.
"Kamu bukan lagi anak yang pergi membawa nama baik keluarga, Aris," suara Koh Li memecah keheningan, matanya menatap tajam ke arah buku kas merah yang diletakkan Aris di atas meja. "Kamu adalah beban yang kembali dengan membawa api."
Aris tidak bergeming. Ia membuka buku kas itu, membalik halaman yang berisi catatan transaksi palsu yang dibuat Mei Ling. "Beban ini bukan milik kalian," ujar Aris tegas. Suaranya tidak bergetar, meski ia tahu di luar sana, kaki tangan Mei Ling mungkin sedang menyisir setiap gang untuk mencarinya. "Mei Ling memalsukan akta kematian agar tanah ini bisa diklaim sebagai aset tanpa pemilik. Lihat stempel ini. Ini bukan tanda tangan tetua, ini adalah duplikat yang dibuat oleh pengacara konsorsium."
Salah satu tetua memicingkan mata ke arah buku kas itu. Tangannya yang gemetar menyentuh kertas usang tersebut. "Mei Ling bilang, ini satu-satunya cara agar kita tidak kehilangan segalanya. Jika kita melawan, mereka akan menagih hutang budi dari masa lalu kita..."
"Hutang itu sudah lunas secara administratif di sini," potong Aris, menunjuk angka-angka di buku kas. "Kalian tidak berhutang pada siapa pun kecuali pada sejarah kalian sendiri."
Setelah pertemuan itu, Aris berjalan menembus blok Pecinan. Langkah kakinya menggema di atas paving blok yang retak. Di saku jaketnya, buku kas merah itu terasa berat—bukan sekadar kertas dan tinta, melainkan satu-satunya tameng yang tersisa. Koh A-Hok berjalan di sisinya, langkahnya yang tertatih tetap konsisten. Mereka melewati kedai teh yang biasanya penuh sesak, namun hari ini, para tetua yang duduk di sana terdiam. Mata mereka mengikuti Aris dengan campuran rasa curiga yang memudar dan rasa ingin tahu yang tajam.
"Mereka mulai mencium ada yang tidak beres dengan Mei Ling," bisik Koh A-Hok. "Tapi pengakuan saja tidak cukup, Aris. Mereka butuh bukti yang tidak bisa dibantah oleh uang konsorsium."
Sebuah suara tajam memotong percakapan mereka. Mei Ling muncul di ujung jalan, menyadari pengaruhnya mulai runtuh. "Sombong sekali kau, Aris. Masih berani menampakkan diri setelah semua kekacauan yang kau buat? Apa kau pikir buku tua itu bisa menyelamatkanmu dari rahasiamu sendiri di luar negeri?"
Aris berhenti. Ia menatap Mei Ling, bukan dengan ketakutan, melainkan dengan ketenangan seorang pria yang telah menerima takdirnya sebagai pewaris. "Rahasiaku mungkin bisa menghancurkanku, Mei Ling, tapi bukti di tanganku ini akan menghancurkan kebohonganmu."
Koh A-Hok melangkah maju, berdiri di samping Aris, memberikan testimoni yang meredam kemarahan tetangga yang mulai berkumpul. "Aris membawa kebenaran yang selama ini kita kubur," ucap A-Hok lantang. Di tengah ketegangan itu, Aris menyadari bahwa ia telah memenangkan hati para tetua, namun ancaman nyata baru saja dimulai saat pria berjas yang dibawa Mei Ling muncul dari kegelapan gang, menatap buku kas di tangan Aris dengan tatapan predator.