Ballroom Penghinaan
Lampu kristal di Grand Ballroom Hotel Bintang Lima itu bukan sekadar penerangan; itu adalah instrumen bedah yang membedah reputasi Arini di depan mata para predator kelas atas Jakarta. Di atas panggung, Rendy memegang mikrofon dengan jemari yang mengetuk-ngetuk ritme penghancuran.
“Lima tahun menghilang, lalu kembali dengan membawa cerita sukses yang diragukan,” suara Rendy bergema, dingin dan terukur. “Banyak yang bertanya, ke mana Arini membawa sisa-sisa masa lalunya yang kelam? Atau lebih tepatnya, siapa yang dia tinggalkan di belakang untuk menutupi jejaknya?”
Arini berdiri di dekat pilar marmer, merasakan tas
Preview ends here. Subscribe to continue.