Panggilan Darurat dari Sekolah
Lampu kristal di suite presidensial itu memantul dingin di permukaan marmer, seolah menertawakan kontrak pertunangan yang baru saja ditandatangani Elara. Di atas kertas legal itu, tinta hitam masih tampak basah, mengunci nasib Elara sebagai pion bagi Adrian. Adrian berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap cakrawala Jakarta, siluetnya tampak seperti benteng yang tak tertembus. Ia tidak menoleh, namun kehadirannya memenuhi setiap inci ruangan, menekan napas Elara hingga terasa sesak.
Elara berusaha menenangkan detak jantungnya. Ia bukan wanita yang mudah goyah, namun beban dokumen rahasia dewan direksi yang ia pegang sebagai kartu as terasa seperti bom waktu di dalam tasnya. Tiba-tiba, ponselnya bergetar di atas meja—sebuah getaran panjang yang memecah kesunyian.
Panggilan dari Sekolah. Nama itu muncul di layar, membuat darah Elara seakan membeku. Ini bukan jam sekolah. Ini adalah peringatan.
Ia meraih ponsel itu dengan tangan yang sedikit gemetar, namun sebelum ia sempat menggeser tombol hijau, sebuah tangan besar dengan jam tangan bermerek yang tajam menyambar ponsel itu lebih dulu. Adrian sudah berada di belakangnya, napasnya terasa hangat di tengkuk Elara. Gerakannya begitu cepat, penuh dominasi yang tidak memberi ruang untuk protes.
"Siapa yang menelepon di jam selarut ini?" suara Adrian rendah, datar, dan tajam seperti silet. Ia menatap layar ponsel itu dengan alis terangkat.
"Itu urusan pribadi," Elara mencoba merebut ponselnya, namun Adrian mengangkatnya lebih tinggi. Matanya yang kelabu menatap Elara dengan intensitas yang tidak memberikan ruang untuk bersembunyi.
"Segala sesuatu yang menyangkut kehidupanmu sekarang adalah bagian dari risiko reputasiku," Adrian melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Elara bisa mencium aroma kayu cendana dari setelan jas mahalnya. "Sekolah elit tidak akan menelepon wali murid selarut ini jika bukan karena masalah administrasi yang sangat mendesak, atau mungkin, masalah identitas."
Adrian tidak menunggu jawaban. Ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. Wajahnya yang semula datar perlahan mengeras. Di seberang telepon, suara kepala sekolah terdengar samar—nada bicara yang menuntut, menyebutkan ketidaksesuaian data wali murid dan ancaman prosedur administrasi yang bisa berujung pada pengeluaran siswa.
"Dengar," suara Adrian memotong dengan otoritas yang tak terbantahkan. "Saya tidak peduli dengan birokrasi kaku yang kalian banggakan. Masalah administrasi itu akan selesai dalam sepuluh menit melalui jalur hukum kantor saya. Jika saya mendengar satu kata lagi tentang pengeluaran, atau jika ada staf yang berani membocorkan status anak ini ke media, saya akan memastikan yayasan sekolah kalian kehilangan seluruh pendanaan dari konsorsium saya besok pagi."
Adrian memutus sambungan tanpa menunggu jawaban. Ia meletakkan ponsel itu kembali ke meja dengan denting yang menyakitkan telinga. Keheningan kembali menyergap, namun kali ini jauh lebih berat. Elara merasa terpojok, napasnya tersengal di balik dinding pertahanan yang mulai runtuh.
"Anak itu," Adrian berbalik, menatap Elara tepat di manik mata. "Siapa dia sebenarnya? Dan kenapa sekolah elit di pusat kota bisa memiliki catatan yang begitu tidak teratur tentang wali muridnya?"
Elara tahu ia tidak bisa melawan pria ini dengan kekuatan fisik, namun ia memiliki sesuatu yang bisa membalikkan keadaan. "Aku memiliki dokumen yang kau inginkan dari dewan direksi," suaranya bergetar namun tegas. "Berikan jaminan keamanan untuk putriku, dan kau akan mendapatkan bukti pengkhianatan yang kau cari."
Adrian terdiam, menatap Elara dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kilatan ketertarikan—bukan pada tubuhnya, melainkan pada ketangguhannya. Ia menerima kesepakatan itu dengan anggukan singkat, namun peringatannya menggantung di udara seperti ancaman. "Setiap kebohongan akan dibayar dengan harga yang mahal, Elara."
Malam berakhir dengan dingin. Di saat Elara mencoba beristirahat, ia melihat Adrian menerima sebuah surat anonim melalui asistennya di sudut ruangan. Adrian tidak membuangnya. Ia membacanya sekali, lalu menyimpannya di dalam laci meja kerja dengan gerakan yang sangat berhati-hati. Elara menyadari, perlindungan Adrian hanyalah bentuk lain dari penahanan—kini pria itu memegang senjata yang bisa menghancurkannya kapan saja. Saat ponsel Elara kembali bergetar, Adrian merebutnya lagi, mendengarkan, lalu menatap Elara dengan tatapan yang bisa membunuh.