Novel

Chapter 1: Kamar Pengantin dan Kebohongan yang Mematikan

Elara berhasil mengikat Adrian dalam kontrak pertunangan palsu untuk menyelamatkan reputasi dan yayasannya, namun kesepakatan itu segera terancam saat panggilan darurat dari sekolah putrinya mengungkap rahasia yang lebih berbahaya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Kamar Pengantin dan Kebohongan yang Mematikan

Cermin besar di suite pengantin lantai lima puluh itu menangkap sosok Elara dengan kejujuran yang menyakitkan. Gaun sutra ivory yang membalut tubuhnya bukan sekadar pakaian; itu adalah jaring pengaman terakhir yang ia beli dengan sisa limit kartu kreditnya—sebuah investasi putus asa untuk perjamuan amal malam ini. Di balik keanggunan yang tampak dari luar, Elara merasakan detak jantungnya berpacu tidak teratur. Jika ia tidak berhasil meyakinkan Adrian untuk meminjamkan namanya dalam skandal ini, besok pagi kantornya akan disegel oleh kurator, dan putrinya akan kehilangan satu-satunya tempat bernaung yang ia miliki.

Suara langkah kaki berat yang ritmis memutus keheningan. Pintu suite terbuka tanpa ketukan. Adrian masuk dengan aura yang membuat udara di ruangan itu terasa menipis. Setelan jas gelapnya tampak seperti baju zirah, kontras dengan kemewahan kamar yang kini terasa seperti sel isolasi. Ia tidak membuang waktu; jasnya dilemparkan ke sofa kulit seolah kain itu adalah beban yang tidak diinginkan. Tatapannya dingin, setajam es di puncak gedung pencakar langit.

"Jelaskan," suaranya rendah, bergetar karena otoritas yang tidak memerlukan teriakan. "Bagaimana bisa namaku muncul di setiap portal berita pagi ini sebagai tunangan dari seorang wanita yang bahkan tidak masuk dalam daftar kenalan bisnisku?"

Elara berdiri tegak, meski kakinya terasa seperti terbuat dari kaca. Di atas meja marmer, ponselnya bergetar tiada henti—notifikasi dari para kolega yang mulai mencium bau skandal dan musuh yang siap menerkam. Ia tidak punya waktu untuk gemetar. Ia harus menjual kebohongan ini sebagai satu-satunya jalan keluar bagi mereka berdua.

"Itu bukan sekadar rumor, Adrian. Itu adalah perisai," jawab Elara, suaranya stabil meski jantungnya berpacu. Ia menarik napas dalam, memaksakan diri untuk menatap mata pria itu. "Musuhmu di dewan direksi sedang menyiapkan mosi tidak percaya. Mereka menggunakan skandal kehidupan pribadimu untuk melemahkan posisimu. Dengan mengumumkan pertunangan ini, kau bukan lagi pria yang tidak stabil atau sembrono. Kau adalah pria yang sedang membangun masa depan."

Adrian tertawa pendek, sebuah suara yang tidak memiliki kehangatan. "Kau pikir kau bisa mengendalikan narasi publikku untuk menutupi kesalahan finansialmu sendiri?"

"Aku tidak meminta belas kasihan. Aku menawarkan aliansi," potong Elara, menyodorkan ponselnya yang berisi draf kontrak sederhana. "Namamu yang bersih akan menghentikan penyelidikan yayasanku. Sebagai gantinya, aku akan memastikan narasi publikmu tetap terkendali selama krisis dewan direksi ini berlangsung. Aku tahu siapa yang membocorkan data pribadimu ke media. Aku punya akses ke dokumen yang tidak bisa kau dapatkan sendiri."

Adrian membaca draf itu dengan diam, lalu mengangkat satu alis. Tekanan di ruangan itu meningkat. Ia tidak menolak, namun tatapannya kini menilai Elara bukan lagi sebagai pengganggu, melainkan sebagai pion yang mungkin berguna.

Ia berjalan menuju meja marmer, mengambil pena, dan mencoret beberapa bagian dengan kasar sebelum melemparkannya kembali ke arah Elara. "Aku setuju dengan syarat ketat. Kau akan tinggal di properti milikku selama kontrak ini berlangsung. Tidak ada pengecualian, tidak ada ruang untuk menghilang dari radar. Jika aku harus meminjamkan namaku untuk membersihkan reputasimu yang hampir hancur itu, maka aku menuntut akses penuh terhadap keberadaanmu."

Elara menatap dokumen itu. Tinta hitam di atas kertas putih tampak begitu tajam, sebuah janji yang mengikat dirinya pada pria yang memandangnya seperti pion dalam permainan catur. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menandatangani kontrak tersebut. Ia sadar, martabatnya kini berada di tangan orang yang bahkan belum pernah ia kenal sepenuhnya.

Adrian berdiri di dekat jendela, menatap lampu-lampu kota Jakarta yang gemerlap di bawah. "Aku akan melindungimu, tapi ingat, namaku bukan untuk disalahgunakan tanpa imbalan."

Baru saja Elara hendak menarik napas lega, ponsel di meja kembali berbunyi nyaring. Sebuah panggilan dari sekolah putrinya masuk. Adrian, dengan refleks yang cepat, merebut ponsel itu dari meja. Ia mendengarkan sejenak, wajahnya berubah menjadi topeng kekakuan yang menakutkan, lalu menatap Elara dengan tatapan yang bisa membunuh.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced