Harga Sebuah Perlindungan
Ruang kerja Adrian di lantai empat puluh bukan sekadar kantor; itu adalah benteng kaca yang dirancang untuk mengintimidasi. Elara berdiri di depan meja mahoni, merasakan dinginnya AC yang kontras dengan panasnya ketegangan di antara mereka. Di atas meja, ponsel Adrian tergeletak—benda yang baru saja ia gunakan untuk membungkam kepala sekolah putrinya dengan ancaman pencabutan dana abadi.
"Dokumen itu, Elara," suara Adrian memotong keheningan, tajam dan tanpa emosi. Ia tidak menatap Elara, melainkan membolak-balik kontrak pertunangan mereka. "Dewan direksi tidak akan menunggu selamanya untuk mencari kambing hitam atas kebocoran data di perusahaan saya. Berikan apa yang kau punya, maka perlindungan saya atas putrimu akan bersifat permanen, bukan sekadar janji lisan."
Elara merapatkan jemarinya, menyembunyikan getaran kecil di balik sikap tenang yang ia paksa tampilkan. "Perlindungan anak saya bukan alat barter untuk menghancurkan musuhmu. Dokumen itu adalah asuransi nyawa kami. Jika saya menyerahkannya sekarang, apa yang mencegahmu membuang kami berdua ke jalanan setelah musuhmu tumbang?"
Adrian bangkit, gerakannya tenang namun predatoris. Ia mendekat, memangkas jarak hingga aroma kayu cendana dan ketegangan yang menguar dari setelan jas mahalnya mendominasi ruang. "Kau terlalu banyak menonton drama, Elara. Aku tidak membuang aset yang berharga. Aku hanya ingin memastikan kau tidak menjadi liabilitas."
"Kalau begitu, terima akses terbatas," balas Elara, menatap mata pria itu tanpa berkedip. "Aku akan memberikan potongan data yang kau butuhkan untuk memancing musuhmu keluar. Jika kau menginginkan sisanya, tunjukkan padaku bahwa kau bisa melindungiku tanpa menelan kebebasanku."
Adrian terdiam, menatap Elara dengan intensitas yang membuat napas wanita itu tertahan. Ia menyadari Elara bukan pion yang bisa dikendalikan dengan intimidasi kasar. Pria itu justru tersenyum tipis—sebuah ekspresi yang tidak mencapai matanya. "Kesepakatan yang menarik. Tapi ingat, setiap inci kebebasan yang kau pertahankan memiliki harga yang harus dibayar di lain waktu."
Beberapa jam kemudian, di ruang tamu yang dingin, Adrian meletakkan map kulit berisi dokumen hukum yang menjamin putri Elara tetap aman di sekolah elitnya. Namun, di balik perlindungan itu, ia menyisipkan klausul yang mengikat Elara untuk selalu berada dalam jangkauan pengawasannya. "Ini adalah investasi, Elara. Aku tidak membiarkan tunanganku menjadi sasaran gosip murahan karena ketidakmampuan mengelola masalah domestik."
Elara menerima map itu dengan kepala tegak, meski ia tahu itu adalah sangkar emas. "Kau menyebutnya investasi, tapi aku menyebutnya kontrol. Jangan berpikir bantuan ini membuatku berhutang kesetiaan buta padamu."
Adrian hanya mengangguk dingin, membiarkan Elara pergi. Begitu pintu tertutup, ia kembali ke ruang kerjanya. Di atas meja kayu mahoni yang mengilap, sebuah amplop cokelat kasar tergeletak—benda yang tampak sangat tidak pada tempatnya. Adrian menyobeknya dengan presisi. Di dalamnya terdapat salinan dokumen lama yang menguning, disertai foto buram Elara dengan ekspresi yang jauh lebih rapuh dari topengnya saat ini.
Ia menyapu setiap baris teks dengan kecepatan predator. Ini bukan sekadar gosip; ini adalah celah hukum yang bisa merobohkan seluruh reputasi Elara. Adrian tidak membuang dokumen itu ke penghancur kertas. Ia justru menyimpannya di laci terkunci, sebuah kartu as yang memastikan Elara tidak akan pernah bisa benar-benar bebas dari genggamannya.
Keesokan paginya, lobi gedung perkantoran Adrian berubah menjadi medan pertempuran. Begitu pintu lift terbuka, kilatan lampu kamera menyambar seperti petir. Elara tertegun saat namanya diteriakkan bersamaan dengan narasi busuk tentang paternitas putrinya yang bocor ke media sosial.
"Nona Elara! Benarkah anak Anda adalah putri dari mantan tunangan Anda yang telah meninggal?" seorang reporter mendesak.
Elara merasakan dunianya menyempit. Di sampingnya, Adrian melangkah maju, memangkas jarak hingga bahu Elara menempel pada setelan jas mahalnya. Ia menarik pinggang Elara dengan gerakan posesif yang tampak seperti pelindung setia di depan kamera. Namun, di telinga Elara, ia berbisik dengan suara sedingin es, "Tersenyumlah, Elara. Jika kau ingin skandal ini berhenti, kau harus menunjukkan pada dunia bahwa kau adalah milikku sepenuhnya."