Panggilan dari Ruang Kelas
Ponsel Elara bergetar di atas meja kerja yang sempit, memecah kesunyian apartemennya. Layar menampilkan nama sekolah putrinya, Nara. Baru dua jam berlalu sejak ia menandatangani kontrak pertunangan dengan Adrian di kantor hukum yang dingin itu, dan kini, dunia kecilnya mulai retak.
"Ibu Elara?" Suara Kepala Sekolah, Ibu Ratna, terdengar kaku. "Ada pertanyaan dari komite sekolah terkait verifikasi finansial untuk pendaftaran ulang Nara. Ada laporan bahwa sumber dana pendidikan Nara tidak konsisten dengan profil pekerjaan Anda."
Jantung Elara berdegup kencang. Aris, mantan suaminya, tidak hanya mengancamnya di pengadilan; dia mulai menyuap orang-orang di lingkaran terdekat Nara untuk menggali lubang yang bisa mengubur Elara. Jika pihak sekolah memeriksa asal-usul rekening tabungan yang ia gunakan, kebohongan tentang stabilitas finansialnya akan runtuh seketika.
"Ibu Ratna, saya rasa ada kesalahpahaman. Semua administrasi sudah saya penuhi," jawab Elara, suaranya berusaha tetap stabil meski tangannya gemetar. Ia harus menjaga martabatnya, namun ia tahu bahwa satu langkah salah akan membuat Nara terancam.
*
Lobi sekolah elit Nara terasa dingin. Elara berdiri di depan meja resepsionis, jemarinya mencengkeram tas kerja hingga buku jarinya memutih. Ibu Ratna menyodorkan sebuah amplop cokelat. "Pihak yayasan menerima surat anonim pagi ini. Isinya mempertanyakan stabilitas finansial Anda. Mengingat kebijakan ketat kami, kami harus melakukan verifikasi ulang."
Sebelum Elara sempat menyusun kalimat pembelaan, suara langkah kaki yang mantap menggema di lantai marmer. Adrian melangkah masuk. Ia mengenakan setelan jas yang tampak seperti baju zirah modern—tajam dan tak tertembus. Tanpa basa-basi, ia berdiri tepat di samping Elara, memangkas jarak hingga bahu mereka bersentuhan.
"Ada masalah dengan tunangan saya?" tanya Adrian. Suaranya rendah, datar, namun sarat dengan otoritas yang membuat kepala sekolah itu tersentak.
"Pak Adrian? Saya tidak tahu Anda akan datang—"
"Saya datang karena tunangan saya merasa terganggu dengan pertanyaan yang tidak relevan," potong Adrian. Ia menatap Ibu Ratna dengan dingin. "Jika yayasan ini lebih tertarik mengurusi rumor daripada menjaga privasi muridnya, mungkin donasi tahunan yang saya berikan perlu dialihkan ke sekolah lain yang lebih profesional."
Kepala sekolah itu memucat. Ancaman itu nyata; pengaruh Adrian adalah fondasi bagi banyak fasilitas di sekolah tersebut. "Tentu saja, Pak. Hanya kesalahpahaman administratif," gumamnya, menarik kembali amplop cokelat itu.
*
Di dalam mobil sedan hitam yang melaju membelah kemacetan Jakarta, keheningan terasa menyesakkan. Adrian tidak menoleh, matanya terpaku pada layar tablet di pangkuannya.
"Anda terlalu tegang," suara Adrian memecah kesunyian. "Jika Anda terus menunjukkan ketakutan seperti itu, pertunangan kita akan terlihat seperti lelucon. Dewan direksi tidak membayar saya untuk memelihara skandal."
Elara menoleh, menatap garis rahang pria itu yang tegas. "Mereka mempertanyakan stabilitas finansialku. Mantan suamiku tahu cara menekan titik terlemahku."
Adrian meletakkan tabletnya. Ia menatap Elara dengan intensitas yang tidak menyisakan ruang untuk berbohong. "Saya sudah melakukan riset mendalam sebelum menyetujui kontrak ini. Saya tahu persis siapa mantan suamimu. Namun, ada satu hal yang tidak ada dalam dokumen hukum yang kamu berikan: mengapa pihak sekolah begitu yakin kamu menyembunyikan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar saldo bank?"
Elara menahan napas. Ia tidak menjawab, namun tatapan Adrian yang tajam seolah sedang membedah rahasia yang ia kunci rapat-rapat.
*
Saat Elara tiba di apartemennya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan anonim masuk, menampilkan foto Nara yang sedang bermain di taman sekolah, diambil dari sudut yang sangat dekat.
"Pertunangan dengan Adrian tidak akan bisa menutupi masa lalumu, Elara. Semua orang akan tahu siapa dirimu sebenarnya sebelum minggu ini berakhir."
Tangannya gemetar. Ini bukan sekadar ulah mantan suaminya; ini adalah perburuan identitas. Seseorang tahu ia memalsukan masa lalunya. Suara kunci pintu yang diputar membuat Elara tersentak. Adrian masuk tanpa mengetuk, membawa hawa dingin yang selalu menyertainya.
"Sekolah sudah puas dengan sandiwara kita tadi," ujar Adrian datar. Ia menatap Elara, matanya menyipit saat melihat ponsel yang masih menyala di tangan wanita itu.
Panggilan sekolah itu bukan sekadar masalah administrasi; itu adalah awal dari terungkapnya identitas putrinya. Adrian menatapnya dengan dingin, menyiratkan bahwa ia tahu persis kebohongan apa yang disembunyikan Elara di balik senyum palsunya.