Novel

Chapter 3: Harga Sebuah Kebohongan

Elara menghadapi interogasi keluarga Adrian dan menyadari bahwa Adrian adalah arsitek di balik kehancuran finansial masa lalunya. Ketegangan memuncak saat ia menyadari bahwa perlindungan Adrian hanyalah bagian dari permainan catur yang lebih besar, sementara ancaman anonim terhadap Nara semakin nyata.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Harga Sebuah Kebohongan

Lampu kristal di ruang makan kediaman keluarga Adrian bukan sekadar dekorasi; itu adalah instrumen pengawasan. Aku duduk di ujung meja mahoni, menjaga punggung tetap tegak saat Nyonya Besar—ibu Adrian—menatapku dengan intensitas yang lebih tajam daripada pisau perak di tangannya.

“Adrian bilang kau pengusaha, Elara,” suaranya dingin, tanpa basa-basi. “Namun, catatan administrasi sekolah cucu saya menyebutkan hal yang… berbeda. Cukup membingungkan bagi seseorang yang akan segera menyandang nama keluarga kami.”

Jantungku berdegup kencang, namun aku memaksakan senyum tipis. Ini adalah perang reputasi, dan setiap kata adalah bukti yang bisa menjeratku. “Bisnis saya sedang dalam fase transisi, Nyonya. Saya yakin Adrian sudah menjelaskan bahwa prioritas utama saya saat ini adalah stabilitas keluarga.”

“Stabilitas?” Ibu Adrian tertawa kecil. “Atau sekadar mencari pelabuhan aman setelah kegagalan masa lalu?”

Sebelum aku sempat menjawab, tangan Adrian bergerak di bawah meja, mencengkeram jemariku dengan tekanan yang posesif sekaligus memperingatkan. Ia meletakkan gelas anggurnya dengan denting yang cukup keras untuk menghentikan percakapan di meja itu.

“Ibu, fokuslah pada makan malam ini,” suara Adrian rendah, datar, namun sarat dengan otoritas. “Elara di sini sebagai tamu saya, dan masa lalunya adalah urusan yang sudah saya verifikasi secara hukum. Jika Ibu mempertanyakan pilihanku, berarti Ibu mempertanyakan penilaianku terhadap dewan direksi.”

Itu adalah pembelaan yang tajam, sebuah kompensasi emosional yang mahal. Namun, di balik perlindungan itu, aku merasakan jerat yang semakin mengencang. Adrian tidak membelaku karena ia peduli; ia membelaku karena ia sedang mengamankan asetnya.

Setelah makan malam, Adrian membawaku ke ruang kerjanya. Pintu tertutup dengan bunyi klik yang final. Ia berdiri membelakangiku, menatap keluar jendela yang menampilkan gemerlap Jakarta dari ketinggian.

“Donasi sekolah itu bukan sekadar formalitas,” ujarnya tanpa menoleh. “Kepala sekolah tidak akan berani memanggil wali murid jika ia tidak merasa posisinya terancam oleh sesuatu yang lebih besar dari sekadar rumor finansial. Apa yang sebenarnya kau sembunyikan?”

“Aku sudah menjelaskan semuanya di kontrak,” jawabku, merapatkan jemari di balik punggung. “Masalahku bisa diselesaikan dengan uang. Bukankah itu yang kau inginkan? Citra pria penyelamat?”

Adrian berbalik. Matanya menyapu wajahku dengan kalkulasi dingin. “Aku tidak keberatan membeli citra, tapi aku benci membeli masalah yang tidak terdeteksi. Mantan suamimu tidak akan menyerang dengan surat anonim jika dia tidak memiliki amunisi yang bisa menghancurkan reputasi kita berdua.”

Saat Adrian keluar untuk menerima telepon penting, aku mendekati meja kerjanya. Mataku terpaku pada folder kulit berwarna gelap. Tanpa menunggu izin, aku membukanya. Tanganku gemetar. Itu bukan sekadar kontrak pertunangan. Itu adalah berkas investigasi mendalam mengenai diriku—tentang kejatuhan finansial yang kualami, bahkan detail kecil mengenai Nara. Namun, satu lembar dokumen terakhir membuat darahku membeku: sebuah surat perjanjian lima tahun lalu. Adrian adalah pihak yang membiayai likuidasi aset perusahaan mantan suamiku saat itu. Adrian bukan orang asing; dia adalah arsitek di balik kehancuran yang membuatku terpuruk.

Langkah kaki tegas terdengar dari lorong. Aku segera menutup map tersebut, namun terlambat. Adrian berdiri di ambang pintu, kemeja putihnya yang digulung memperlihatkan urat nadi yang tenang namun berbahaya.

“Mencari sesuatu yang tidak tercantum dalam kontrak kita, Elara?” suaranya rendah, nyaris seperti desisan.

Aku menegakkan punggung. “Aku hanya tidak menyangka kau sudah mengawasi Nara sebelum kita sepakat. Apa ini bagian dari perlindungan, atau kau mengumpulkan amunisi untuk menghancurkanku jika aku melanggar batas?”

Adrian berjalan mendekat, mengikis ruang gerakku hingga aku terpojok ke rak buku. Ia menatapku dengan dingin, menyiratkan bahwa ia tahu persis kebohongan apa yang kusembunyikan di balik senyum palsuku. Tepat saat itu, ponsel di sakuku bergetar. Sebuah pesan masuk—foto Nara di taman sekolah, dengan pesan anonim yang tertulis singkat: Aku tahu siapa kau sebenarnya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced