Tanda Tangan di Atas Luka
Di atas meja mahoni yang dingin, dokumen itu tampak seperti vonis mati. Elara menatap tajam pada tumpukan kertas di depannya, di mana tuntutan hak asuh penuh atas putrinya, Nara, tercetak dengan tinta hitam yang tegas. Di seberang meja, pengacara mantan suaminya, seorang pria dengan setelan abu-abu yang terlalu rapi, menyesap kopinya dengan santai.
"Nyonya Elara, klien saya memiliki bukti bahwa stabilitas keuangan Anda tidak memadai untuk membesarkan anak di lingkungan yang pantas," ucap pengacara itu tanpa basa-basi. "Ini bukan lagi sekadar negosiasi. Ini adalah peringatan. Jika Anda tidak memiliki pendukung atau status yang setara saat sidang minggu depan, hakim tidak akan memihak Anda."
Elara mengepalkan tangannya di bawah meja, kukunya menekan telapak tangan hingga memutih. Ia tidak punya waktu untuk drama ruang sidang yang berlarut-larut. Nara adalah satu-satunya alasan ia bertahan, dan ancaman ini adalah serangan langsung ke jantung kehidupannya. Sebelum ia sempat membalas, pintu ruang pertemuan terbuka lebar. Adrian masuk tanpa mengetuk, membawa serta aura dominasi yang seketika membuat suhu ruangan terasa turun beberapa derajat.
"Dia tidak akan sendirian," suara Adrian dingin, tajam seperti silet. Pria itu tidak menatap Elara, melainkan fokus pada pengacara di depannya. "Karena dia adalah tunangan saya."
Elara tertegun. Detik itu juga, ia ditarik ke dalam pusaran yang tidak ia rencanakan. Setelah pengacara itu pergi dengan wajah pucat, Adrian membawa Elara ke kantor pribadinya di lantai 42. Tidak ada lukisan mahal atau perabotan yang dipamerkan secara berlebihan; hanya meja kayu ek panjang yang memisahkan mereka. Adrian meletakkan tabletnya, menampilkan grafik saham keluarga yang sedang anjlok.
"Dewan direksi menuntut citra pria keluarga yang stabil," ujar Adrian lugas. "Istri atau tunangan yang bisa dipamerkan di depan publik adalah aset yang hilang dari portofolio saya. Anda butuh perlindungan hukum, dan saya butuh legitimasi. Kesepakatan ini transaksional, Elara. Jangan berharap lebih."
Elara menegakkan punggung. Ia tidak akan memohon, meskipun harga dirinya terasa terkikis. "Saya bukan aset, Adrian. Saya seorang ibu yang membutuhkan perlindungan agar mantan suami saya tidak bisa menyentuh hak asuh putri saya. Jika Anda ingin saya menjadi tunangan Anda, Anda harus memastikan dia tidak akan pernah bisa mendekati Nara lagi."
Adrian berjalan mendekat, bayangannya menelan ruang gerak Elara. "Tanda tangani, dan dia tidak akan berani menyentuh putrimu."
Tanpa pilihan lain, Elara mengambil pena. Suara gesekan pena di atas kertas tebal itu terdengar seperti lonceng kematian bagi kebebasan pribadinya. Saat tanda tangannya melengkung di bagian bawah kontrak, Elara menyadari bahwa ia baru saja menjual kemerdekaannya demi keamanan hukum putrinya.
"Ingat, Elara," suara Adrian rendah, tanpa emosi. "Reputasimu adalah milikku. Setiap langkahmu mulai detik ini harus sesuai dengan narasi yang saya bangun."
Elara beranjak meninggalkan ruang konferensi menuju lobi. Tangannya sedikit gemetar di dalam saku mantel. Tepat saat ia melangkah keluar gedung, ponselnya bergetar. Sebuah nomor dari sekolah Nara terpampang di layar. Elara mengangkatnya dengan jantung berdegup kencang, namun suara di seberang telepon bukan sekadar menanyakan biaya sekolah. Itu adalah pertanyaan tentang latar belakang putrinya yang mulai dipertanyakan oleh pihak yayasan. Tanda tangan Elara di atas kontrak hukum itu bukan sekadar formalitas, melainkan awal dari jebakan yang tidak bisa ia hindari. Panggilan sekolah itu bukan sekadar masalah administrasi; itu adalah awal dari terungkapnya identitas putrinya.