Panggilan Darurat yang Mengguncang
Lampu kristal di ballroom Hotel Bintang Lima memantulkan cahaya dingin ke gaun hitam Arini, seolah menekan tulang rusuknya lebih keras daripada kontrak yang baru ia tanda tangani semalam. Di sampingnya, Bramantya berdiri tegak, tangan kanannya menyentuh punggung bawah Arini dengan tekanan yang terukur—bukan kehangatan, melainkan pengingat kepemilikan.
"Senyum," bisik Bramantya tanpa menoleh, suaranya rendah di tengah denting gelas dan tawa sosialita Jakarta. "Mereka sedang mengukur berapa lama sandiwara ini bertahan."
Arini mengangkat dagu, bibirnya melengkung sempurna. Setiap tatapan dari para istri direktur terasa seperti pisau kecil yang mengiris martabatnya. Seorang wartawan dari majalah bisnis mendekat, mikrofon sudah teracung. "Bu Arini, pertunangan ini sangat mendadak. Apakah ada kaitan dengan masalah finansial keluarga Anda yang sedang ramai dibicarakan?"
Pertanyaan itu menusuk tepat di luka lama. Utang mantan kekasihnya yang melarikan diri masih menggantung seperti bayangan. Arini merasakan jari Bramantya menekan lebih kuat di pinggangnya, memberi isyarat diam.
"Kami bertemu pada waktu yang tepat," jawab Bramantya datar, nada suaranya seperti pernyataan bisnis. "Arini adalah pilihan saya. Itu sudah cukup untuk dewan direksi."
Tiba-tiba, ponsel di dalam tas kecil Arini bergetar hebat. Layar menyala: SD Pelita Harapan. Panggilan darurat di jam segini hanya berarti satu hal: Leo, putranya, mengalami sesuatu yang serius. Arini menahan napas, dunianya mendadak sempit.
"Maaf, Bram," bisik Arini dengan suara serak, mencoba melepaskan diri. "Aku harus ke toilet sebentar."
Bramantya tidak langsung melepaskan. Matanya yang tajam menelusuri wajah Arini yang memucat. "Kita sedang dalam sesi foto eksklusif, Arini. Jangan membuatku terlihat seperti pria yang kehilangan kendali atas tunangannya."
"Ini darurat," balas Arini penuh tekanan, matanya berkilat memohon.
Sebelum Bramantya menjawab, seorang wartawan senior dari Jakarta Daily menyelinap melewati pembatas. "Nona Arini, benarkah Anda memiliki kehidupan tersembunyi? Ada rumor bahwa Anda meninggalkan tanggung jawab besar di luar sana."
Suasana hening seketika. Jantung Arini seakan berhenti. Ia nyaris mundur, namun tangan Bramantya mendarat di pinggangnya—bukan sentuhan romantis, melainkan cengkeraman posesif yang absolut. "Pertanyaan yang menarik," suara Bramantya memotong riuh rendah ruangan, dalam dan penuh otoritas. Ia menatap kamera dengan tatapan predator yang sengaja mengaburkan fakta. "Namun, kalian sepertinya salah alamat. Semua yang ada pada Arini adalah tanggung jawab saya. Jika kalian mencari 'tanggung jawab' yang dimaksud, itu ada di bawah perlindungan saya sekarang."
Arini menoleh, mendapati rahang Bramantya yang mengeras. Pria itu baru saja mempertaruhkan kredibilitasnya sendiri demi membungkam media.
Sesaat kemudian, mereka sudah berada di dalam limusin yang senyap. Pintu tertutup rapat, memutus riuh rendah dunia luar. Di dalam kabin yang beraroma kulit mahal, Arini merosot ke jok, jemarinya yang dingin saling bertaut erat hingga buku-bukunya memutih. Bramantya mematikan layar ponselnya dengan gerakan tenang, namun kehadirannya memenuhi ruang sempit itu seperti tekanan atmosfer sebelum badai.
"Mereka mulai mengaitkan namamu dengan rumor di sekolah itu," suara Bramantya memecah keheningan. Nadanya datar, namun ada ketajaman yang membuat Arini tersentak.
Arini mencoba mempertahankan ketenangannya. "Itu hanya kecelakaan, Bram. Aku akan mengurusnya. Ini tidak ada dalam kontrak kita."
Bramantya memiringkan kepalanya, menatap Arini dengan tatapan kalkulatif yang seolah membedah setiap lapisan pertahanannya. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang kuat menggenggam jemari Arini. Bukan genggaman lembut seorang kekasih, melainkan cengkeraman seorang pemilik yang sedang mengunci sanderanya.
"Aku tahu rahasiamu sejak awal, Arini," bisik Bramantya, suaranya sedingin es. "Keluargaku sudah menyelidiki latar belakangmu sebelum kontrak ini ditandatangani. Kamu tidak sedang bernegosiasi dengan orang bodoh."