Kontrak di Balik Pintu Suite
Gaun pengantin sutra itu terasa seperti kain kafan yang mahal. Arini menatap pantulan dirinya di cermin besar bridal suite Hotel The Ritz-Carlton, namun ia tidak mengenali wanita yang berdiri di sana. Riasan wajahnya sempurna, namun hatinya sedingin lantai marmer di bawah kakinya. Di atas meja rias, di samping buket mawar putih yang layu, tergeletak tumpukan surat peringatan penyitaan aset—warisan kehancuran yang ditinggalkan mantan kekasihnya sebelum menghilang tanpa jejak, meninggalkan Arini dengan utang yang mengancam masa depan putri kecilnya.
Ketukan di pintu tidak terdengar seperti undangan, melainkan vonis hakim. Pintu terbuka tanpa menunggu jawaban. Bramantya melangkah masuk, setelan jas bespoke-nya tampak seperti baju zirah yang memisahkan dirinya dari kekacauan dunia. Ia tidak menatap gaun pengantin itu; ia menatap Arini seolah sedang membedah masalah bisnis yang mendesak.
“Waktunya habis, Arini,” suaranya berat, tanpa nada simpati. “Dewan direksi mulai bertanya mengapa tunangan saya tidak muncul di acara amal malam ini. Mereka tidak suka ketidakpastian, dan saya tidak suka kehilangan kendali atas narasi publik saya.”
Arini mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. “Ini gila, Bram. Aku tidak punya kapasitas untuk bersandiwara saat hidupku sendiri sedang berantakan. Lihat ini.” Ia menunjuk tumpukan surat di meja dengan dagunya. “Utang-utang itu bukan milikku, tapi namaku yang tercantum di sana. Jika aku muncul di sampingmu malam ini, media akan menggali masa laluku dalam hitungan detik. Kau tidak hanya membeli tunangan, kau membeli skandal.”
Bramantya mendekat, aroma kayu cendana dan kekuasaan yang tajam menguar dari tubuhnya. Ia meletakkan map kulit hitam ke meja rias marmer; dentumannya terasa seperti vonis mati. “Baca pasal keempat,” perintahnya datar.
Arini membuka map itu. Jemarinya gemetar hebat. Kewajiban pihak kedua adalah menjaga citra publik pihak pertama tanpa syarat. Sebagai kompensasi, pihak pertama akan melunasi seluruh kewajiban finansial pihak kedua dan menjamin keamanan aset serta privasi keluarga pihak kedua.
“Ini bukan sekadar pertunangan,” suara Arini parau, namun tetap tajam. “Ini penghapusan identitas. Jika aku menandatangani ini, aku hanyalah properti dalam portofolio bisnismu.”
Bramantya melangkah maju, memangkas jarak hingga Arini bisa mencium aroma kayu cendana yang menyesakkan. Ia meletakkan tangan di sandaran kursi, mengurung Arini dalam ruang kecil yang pengap. “Identitasmu saat ini hanyalah tumpukan utang. Kau punya anak yang harus dilindungi, bukan? Jika kau menolak, besok pagi media akan tahu bahwa kau bukan sekadar wanita yang ditinggalkan, tapi ibu yang tidak mampu memberi makan anaknya.”
Ancaman itu menghantam tepat di jantung pertahanannya. Arini menatap pria itu—sosok yang dingin, kalkulatif, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan itu, Arini melihat satu-satunya jalan keluar untuk menjaga masa depan putranya tetap aman dari kejaran rentenir dan sorotan kamera.
“Aku akan menjadi tunangan yang sempurna di depan publik,” ucap Arini akhirnya, suaranya kini stabil meski hatinya bergejolak. “Tapi aku punya satu syarat: jangan pernah menyentuh urusan pribadiku, terutama yang berkaitan dengan anakku. Itu garis yang tidak boleh kau lewati.”
Bramantya menatapnya lama, seolah sedang menimbang nilai investasi yang baru saja ia kunci. Ia mengeluarkan pena dari saku jasnya dan menyodorkannya. Arini mengambil pena itu, tangannya tidak lagi gemetar saat ia menorehkan tanda tangannya di atas kertas dingin tersebut. Begitu tinta itu mengering, ia sadar ia baru saja menyerahkan kebebasannya demi perlindungan yang semu.
Bramantya mengambil kontrak itu, melipatnya dengan gerakan presisi yang angkuh. Ia tersenyum dingin, sebuah ekspresi yang tidak mencapai matanya. “Satu syarat lagi dari pihakku, Arini,” katanya sambil membalikkan badan menuju pintu. “Kau boleh menjadi tunanganku di depan kamera, kau boleh menggunakan namaku untuk membersihkan namamu, tapi ingat ini baik-baik: kau tidak boleh jatuh cinta padaku.”