Novel

Chapter 3: Harga dari Sebuah Perlindungan

Arini menghadapi interogasi keluarga Bramantya yang mengancam statusnya. Bramantya memberikan perlindungan publik yang tegas namun menuntut kepatuhan mutlak. Arini menemukan bukti pengkhianatan mantan kekasihnya di ruang kerja Bramantya, dan bab berakhir dengan konfrontasi langsung antara Arini, Bramantya, dan Danu di lobi gedung.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Harga dari Sebuah Perlindungan

Di dalam limusin yang melaju membelah kemacetan Jakarta, keheningan terasa lebih menyesakkan daripada kebisingan kamera di luar gedung gala tadi. Arini menyandarkan kepala ke jok kulit, memejamkan mata. Jantungnya masih berdegup kencang, bukan karena sorotan lampu, melainkan karena panggilan darurat dari sekolah Leo yang baru saja ia terima—sebuah ancaman yang kini menari-nari di balik dinding pertahanan yang ia bangun dengan susah payah.

Bramantya tidak berbicara. Ia menyesuaikan manset kemejanya dengan gerakan tenang yang kontras dengan kekacauan di kepala Arini. Di dalam ruang tertutup yang mewah ini, kemewahan justru terasa seperti sel yang menyempit.

"Mereka tidak akan mengejarmu lagi malam ini," ucap Bramantya datar. Matanya yang tajam menatap lurus ke depan. "Bukan drama. Itu investasi. Dan dalam setiap investasi, aku tidak suka ada variabel yang tidak kuketahui."

Arini menegang. "Maksud Anda?"

Bramantya mengeluarkan sebuah map tipis dari saku jasnya. "Aku tahu rahasiamu sejak awal, Arini. Keluargaku sudah menyelidiki latar belakangmu jauh sebelum kita menandatangani kontrak itu." Ia menggenggam tangan Arini yang dingin dan gemetar, menguncinya dengan tatapan yang tidak memberi ruang untuk berbohong. "Leo adalah asetmu, dan saat ini, asetmu adalah tanggung jawabku. Jangan pernah mencoba menyembunyikan apa pun lagi dari suamimu—bahkan jika itu hanya sebuah sandiwara."

Sesampainya di kediaman keluarga Bramantya, Arini dipaksa masuk ke dalam arena eksekusi sosial. Bau parfum mahal dan aroma masakan Prancis yang tajam menyambutnya. Di ujung meja panjang, Tante Mirna menatap Arini dengan mata yang memicing. “Jadi, Arini,” suara Tante Mirna memecah kesunyian. “Bramantya bilang kamu berasal dari latar belakang yang sangat privat. Padahal, di lingkaran kami, privasi hanyalah cara sopan untuk menyembunyikan hutang.”

Arini menegakkan punggung, menolak untuk menunduk. “Saya lebih menghargai ketenangan daripada panggung, Tante. Lagipula, bukankah hasil kerja keras jauh lebih berharga daripada warisan yang hanya menunggu untuk dihabiskan?”

“Sangat menarik,” Tante Mirna tertawa sinis. “Tapi katakan, bagaimana seorang wanita mandiri bisa tiba-tiba muncul di gala dan langsung menggenggam perhatian Bramantya? Kami mendengar rumor tentang tanggung jawab lain yang kamu tinggalkan di rumah.”

Sebelum Arini bisa menjawab, Bramantya memotong dengan suara rendah namun dingin yang membungkam seluruh ruangan. “Dia adalah tanggung jawabku. Dan siapa pun yang mempertanyakan pilihanku, berarti sedang mempertanyakan keputusanku dalam mengelola korporasi ini. Apakah ada di antara kalian yang ingin mengambil alih posisi itu?”

Hening. Arini menyadari bahwa perlindungan Bramantya memiliki harga: ia kini sepenuhnya terikat dalam narasi publik yang dibuat pria itu.

Setelah makan malam, Arini menyelinap ke ruang kerja Bramantya untuk menenangkan diri. Di atas meja eksekutif, sebuah map manila bertuliskan Laporan Latar Belakang: Arini tergeletak terbuka. Arini membacanya, dan dunianya berhenti. Di dalamnya terdapat bukti tertulis bahwa mantan kekasihnya, Danu, sengaja meninggalkan utang atas nama Arini sebagai balas dendam. Ia bukan korban kegagalan bisnis; ia adalah korban pengkhianatan yang dirancang dengan teliti.

"Kau sudah melihatnya?" Suara Bramantya muncul dari ambang pintu. Ia tidak marah, justru tampak tenang. "Aku sengaja membiarkannya di sana agar kau berhenti bersikap defensif. Aku tidak butuh boneka yang ketakutan, Arini. Aku butuh mitra yang tahu siapa musuh sebenarnya."

Arini merasa terhina karena privasinya dibedah, namun ia juga merasa lega. Kebenaran itu terasa seperti beban yang terangkat. "Kenapa kau melakukan ini?"

"Karena aku sedang membentukmu, Arini," jawab Bramantya, melangkah mendekat. "Bukan sebagai tunangan palsu, tapi sebagai seseorang yang bisa bertahan di dunia yang akan kita kuasai bersama."

Namun, saat Arini hendak meninggalkan gedung untuk menemui Leo, langkahnya terhenti di lobi. Sosok pria yang seharusnya terkubur dalam masa lalunya berdiri di sana. Danu. "Lama tidak bertemu, Arini," ujar pria itu, suaranya licin. "Aku dengar pertunanganmu sedang hangat diperbincangkan. Sayang sekali kalau publik tahu kau punya anak. Apa mereka akan menyebutmu wanita malang atau penipu?"

Sebelum Arini bisa bereaksi, hawa dingin yang lebih dominan menyapu lobi. Langkah kaki yang terukur dan berat berhenti tepat di belakang Arini. Sebuah tangan besar menyentuh bahunya, memberikan peringatan sekaligus kepemilikan. Bramantya berdiri di belakangnya, menatap Danu dengan mata yang sedingin es, siap menghancurkan siapa pun yang berani menyentuh apa yang kini berada di bawah perlindungannya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced