Skandal di Gerbang Sekolah
Ponsel di atas meja marmer firma hukum itu bergetar, memecah keheningan steril. Nama 'SD Pelita Bangsa' yang tertera di layar membuat napas Elara tertahan. Ia baru saja menandatangani kontrak pertunangan palsu itu sepuluh menit lalu, dan sekarang, ancaman yang paling ia takuti justru datang dari tempat putrinya bernaung.
Elara menatap Adrian yang sedang merapikan dokumen di seberang meja. Tanpa menunggu izin, Elara mengangkat panggilan itu. Suara kepala sekolah di ujung sana terdengar formal namun menusuk, menuntut klarifikasi mengenai perbedaan data identitas ayah pada formulir pendaftaran yang baru saja diperiksa ulang oleh pihak administrasi.
"Ibu Elara, ada kejanggalan pada dokumen legal yang Ibu serahkan tahun lalu," ujar suara itu. "Jika tidak ada penjelasan, kami terpaksa melaporkan ini ke dinas terkait untuk verifikasi lebih lanjut."
Keringat dingin membasahi telapak tangan Elara. Ia melirik Adrian, yang kini menatapnya dengan tajam. Pria itu berdiri, langkahnya tenang namun penuh tekanan saat ia mendekat, merebut ponsel dari tangan Elara tanpa permisi.
"Ini Adrian Kusuma," suara pria itu rendah, berwibawa, dan mutlak. "Saya sedang dalam perjalanan ke sekolah. Ada masalah dengan data putri saya? Saya sendiri yang akan menyelesaikannya dalam waktu kurang dari satu jam."
Adrian menutup telepon dan menatap Elara. "Kau dengar? Sekarang, reputasimu bukan lagi urusan pribadimu. Itu adalah aset perusahaan yang harus kujaga." Ia melempar ponsel itu kembali ke meja dengan dentuman yang terasa seperti vonis.
Saat Elara memacu mobilnya menuju gerbang sekolah elit di bilangan Jakarta Selatan tiga puluh menit kemudian, pemandangan di depan mata membuat darahnya membeku. Belasan pria dengan kamera besar sudah mengepung area drop-off. Mereka bukan sekadar orang tua yang menjemput anak; mereka adalah paparazzi yang mencium bau skandal saham Adrian. Elara adalah pion yang terjebak di antara tuntutan hukum dan sorotan lensa yang lapar akan kehancuran karier pria itu.
Begitu ia turun dari mobil, kilatan lampu kamera menyambar bagai petir. "Elara! Benarkah Anda wanita misterius yang membuat saham Adrian merosot tajam?" seru salah satu wartawan. "Di mana ayah dari anak Anda? Apakah benar Adrian adalah pria di balik pemalsuan identitas ini?"
Elara mematung. Putrinya, yang baru saja keluar dari gerbang, tampak ketakutan melihat kerumunan itu. Sebelum satu pun pertanyaan bisa dijawab, sebuah sedan hitam berhenti tepat di samping Elara. Adrian keluar dengan setelan jas sempurna, wajahnya dingin tak tersentuh.
Tanpa ragu, Adrian menarik Elara ke dalam pelukannya. Tubuh Elara menegang saat merasakan kehangatan yang kontras dengan tatapan predator pria itu. Adrian merangkulnya erat, sebuah gestur yang di mata publik tampak sebagai perlindungan penuh kasih, namun di telinga Elara, ia membisikkan ancaman dingin, "Tersenyumlah. Jika kau merusak sandiwara ini, putri kecilmu akan menjadi saksi kehancuranmu sendiri."
Adrian membawa mereka pergi, meninggalkan kerumunan wartawan yang terpana. Di dalam mobil, ponsel Adrian tidak berhenti bergetar. Panggilan dari direksi perusahaan menuntut penjelasan atas foto-foto yang mulai tersebar luas. Adrian hanya mendengarkan sebentar sebelum menjawab dengan nada yang tidak menerima bantahan, "Dia adalah tunangan saya. Urus sahamnya, atau kalian yang akan saya urus."
Elara menatap keluar jendela, menyadari bahwa ia baru saja terikat dalam permainan yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Saat Adrian harus pergi untuk rapat darurat, Elara ditinggalkan di ruang kerja pria itu. Di tengah tumpukan map, ia menemukan sebuah map cokelat lama. Jemarinya gemetar saat membuka isinya. Itu bukan somasi, melainkan surat-surat dari Adrian yang tak pernah sampai—bukti bahwa seseorang telah sengaja memisahkan mereka lima tahun lalu. Musuh yang sebenarnya kini tampak lebih nyata, dan Elara menyadari bahwa Adrian mungkin bukan satu-satunya pria yang harus ia waspadai.