Kontrak di Atas Luka
Surat somasi itu tergeletak di atas meja dapur yang retak, kontras dengan sisa sarapan Maya yang belum sempat dibersihkan. Elara menatap amplop berlogo firma hukum ternama di Jakarta itu dengan napas tertahan. Di dalamnya bukan sekadar tuntutan hukum, melainkan ancaman telanjang terhadap hak asuhnya atas Maya. Seseorang telah menggali masa lalunya, memutarbalikkan fakta yang ia kubur dalam-dalam, dan kini menggunakannya untuk memerasnya hingga ke titik nadir.
“Mama, kenapa wajah Mama pucat?” suara kecil Maya memecah kesunyian apartemen.
Elara segera menyembunyikan surat itu di bawah tumpukan dokumen tagihan listrik yang menunggak, lalu memaksakan senyum yang tidak sampai ke matanya. “Tidak apa-apa, Sayang. Hanya pekerjaan yang sedikit merepotkan,” jawab Elara, suaranya stabil meski jantungnya berdegup liar. Ia tahu ini bukan sekadar masalah uang. Ini adalah perang reputasi yang dirancang untuk menghancurkannya secara sistematis. Saat Maya beranjak ke kamar untuk melanjutkan gambarnya, ponsel Elara bergetar hebat. Sebuah nomor tak dikenal muncul di layar. Begitu ia mengangkatnya, suara dingin Adrian menyambar telinganya.
“Waktumu tersisa enam puluh menit, Elara. Datang ke kantor hukum Dirgantara atau aku akan memastikan somasi itu sampai ke meja hakim besok pagi,” ucap Adrian. Pria itu tidak menunggu jawaban, langsung memutus sambungan.
*
Kantor hukum itu berbau kopi hitam pekat dan kertas tua yang dingin. Di lantai empat puluh gedung pencakar langit kawasan SCBD ini, kemewahan tidak terasa seperti kenyamanan—ia terasa seperti jeruji besi yang dilapisi marmer. Elara duduk tegak, tangannya meremas tas kulit usang di pangkuannya. Di seberang meja, Adrian duduk dengan postur yang sempurna, menatap layar tablet yang menampilkan grafik anjlok saham perusahaannya. Skandal itu baru pecah tadi pagi, dan kini, Elara adalah satu-satunya variabel yang bisa menstabilkan harga saham Adrian.
“Hak asuh putrimu bukan sekadar masalah hukum, Elara,” suara Adrian berat, tanpa intonasi belas kasih. “Itu adalah titik lemah yang bisa dihancurkan oleh siapa pun yang memiliki akses ke dokumen ini.” Ia menggeser sebuah map cokelat ke tengah meja.
Elara tidak membukanya. Ia sudah tahu apa isinya: bukti bahwa ia pernah memalsukan identitas untuk menyekolahkan putrinya di sekolah elit yang kini menjadi pusat rumor paternity yang kejam. “Kau menggunakan namaku untuk mendapatkan akses, dan sekarang kau memeras masa depanku dengan itu?” tanya Elara. Suaranya bergetar, namun ia menolak untuk terlihat hancur.
Adrian meletakkan tabletnya. Tatapannya kini mengunci Elara, tajam dan menghitung. “Aku tidak memerasmu. Aku menawarkan pertukaran. Jadilah tunanganku di depan publik, redam skandal ini, dan aku akan memastikan somasi itu hilang selamanya.”
Elara menatap kontrak di depannya. Pena itu terasa lebih berat dari logam manapun yang pernah ia sentuh. Di atas meja mahoni yang mengkilap, kontrak itu tergeletak—selembar kertas yang memisahkan kehidupan lamanya yang berantakan dengan realitas baru sebagai pion dalam permainan reputasi Adrian. Ia bisa merasakan tatapan pria itu, dingin dan tanpa simpati, namun ada intensitas yang menekan udara di ruangan itu.
“Kau sangat menyukai skenario di mana aku tidak punya pilihan, bukan?” tanya Elara tajam.
“Aku menawarkan stabilitas. Kau menawarkan citra yang kubutuhkan. Jangan biarkan harga dirimu membuat putrimu kehilangan rumahnya,” balas Adrian datar.
Elara menatap kontrak tersebut, menyadari bahwa tanda tangannya bukan hanya mengikatnya pada Adrian, tapi juga menyerahkan kunci rahasia putrinya. Dengan tangan gemetar, ia membubuhkan tanda tangan di atas kertas itu, sebuah komitmen yang akan mengubah segalanya. Ia tidak menyadari bahwa di luar sana, wartawan sudah menunggu, dan dalam hitungan detik, hidupnya yang tenang akan berakhir digantikan oleh sorotan kamera yang kejam.