Jejak di Balik Dokumen
Ruang kerja Adrian di lantai empat puluh bukan sekadar kantor; itu adalah brankas. Udara di sana selalu terasa dingin, berbau kayu cendana dan kopi hitam yang dibiarkan mendingin—sebuah ruang kedap suara tempat karier dihancurkan dengan satu tanda tangan. Elara berdiri di tengah ruangan, napasnya tertahan. Di koridor luar, suara rapat dewan direksi masih bergema, namun di sini, ia hanya memiliki waktu sebelum Adrian kembali.
Ia tidak mencari simpati. Ia mencari celah dalam somasi hukum yang mencekik hak asuhnya atas sang putri. Jemarinya gemetar saat menyapu permukaan meja mahoni yang steril, hingga matanya tertuju pada sebuah map kulit cokelat yang terselip di balik tumpukan berkas saham. Tanpa ragu, ia menariknya.
Isinya bukan draf somasi. Itu adalah arsip pribadi yang seharusnya sudah dimusnahkan lima tahun lalu. Elara membuka lembaran paling atas: surat tulisan tangannya sendiri. Surat yang ia kirimkan tepat sebelum ia dipaksa pergi oleh orang suruhan keluarga Adrian. Surat yang ia yakini telah dibuang ke tempat sampah oleh Adrian karena pria itu tidak pernah membalas satu kata pun.
Di balik surat itu, terlampir sebuah memo hukum dengan cap resmi firma tersebut, tertanggal seminggu setelah ia menghilang. ‘Pesan tidak disampaikan. Pihak ketiga telah mengamankan rute komunikasi. Subjek dipastikan terisolasi.’
"Aku tidak menyangka kau punya hobi menggeledah properti pribadi, Elara."
Suara itu memotong udara seperti silet. Elara tersentak, membalikkan badan. Adrian berdiri di ambang pintu, kemeja putihnya sedikit kusut, matanya menyipit saat melihat map di tangan Elara. Tidak ada kemarahan yang meledak, hanya tatapan tajam yang menyimpan badai. Elara tidak mundur. Ia melemparkan map itu ke atas meja.
"Jelaskan ini, Adrian. Mengapa surat-surat ini ada di sini? Kau membiarkanku percaya bahwa kau tidak menginginkanku, saat ternyata kau justru menahan bukti ini. Kau bilang aku meninggalkanmu demi pria lain!"
Adrian mendekat, langkahnya mantap namun penuh tekanan. Ia tidak mencoba meraih map itu, melainkan menatap Elara dengan intensitas yang membuat napas wanita itu tertahan. "Kau pikir aku menyembunyikannya? Kau pikir aku menikmati lima tahun hidup dalam bayang-bayang kegagalan karena mengira kau memilih pria lain?" Ia mengambil surat itu dengan gerakan yang hampir selembut perlindungan. "Surat ini dicegat. Seseorang di dalam rumahku sendiri memastikan kita tidak pernah bertemu lagi."
Elara merasa dunianya runtuh. Musuh yang selama ini ia lawan—sistem hukum dan ancaman Adrian—ternyata hanyalah pion dalam permainan yang lebih besar. Mereka berdua adalah korban dari sabotase yang sama. "Siapa?" tanya Elara, suaranya pecah.
"Keluargaku," jawab Adrian singkat, rahangnya mengeras. "Mereka tidak menginginkan pewaris utama terikat pada seseorang yang mereka anggap tidak setara. Dan sekarang, mereka akan mencoba melakukan hal yang sama pada putrimu."
Ketegangan di antara mereka berubah menjadi gencatan senjata yang rapuh. Adrian menawarkan perlindungan lebih nyata—bukan lagi sebagai penindas, melainkan sebagai sekutu yang berbagi luka yang sama. Mereka sepakat untuk tetap menjalankan pertunangan palsu sebagai kedok untuk menjebak pihak ketiga tersebut.
Beberapa jam kemudian, di ballroom hotel bintang lima, lampu kristal terasa seperti lampu interogasi. Elara berdiri di samping Adrian, merasakan sensasi dingin dari kain sutra gaunnya yang kontras dengan panasnya tatapan para tamu. Dewan direksi dan sosialita Jakarta menatap dengan mata yang memindai, mencari keretakan dalam pertunangan yang baru diumumkan secara mendadak.
"Tersenyumlah," bisik Adrian, suaranya rendah namun memiliki otoritas yang membuat Elara otomatis menarik sudut bibirnya. "Dewan direksi sedang memperhatikan."
Saat musik dansa dimulai, Adrian meletakkan tangannya di pinggang Elara, menariknya lebih dekat hingga tidak ada ruang tersisa di antara mereka. Gerakan itu kasar namun presisi, sebuah perlindungan yang terasa seperti kurungan. Di bawah sorotan lampu, Elara merasa permainan telah berubah. Ia kini memiliki sekutu yang berbahaya.
Adrian menunduk, bibirnya hampir menyentuh telinga Elara saat mereka berputar. "Aku tahu itu bukan anak orang lain," bisiknya, nada suaranya berubah menjadi protektif yang intim. "Dan aku akan memastikan tidak ada satu orang pun yang bisa mengambilnya darimu."