Aliansi yang Rapuh
Lantai 3 bergetar. Dinding baja Sektor 4 berderit, memuntahkan percikan listrik statis yang menyengat kulit. Aris tersungkur, napasnya tersengal di tengah gravitasi yang mendistorsi ruang. Di sudut retina, indikator beban saraf berkedip merah: 92%. Setiap detak jantung terasa seperti tusukan jarum panas ke sumsum tulang.
Di depannya, Kael berdiri dengan senyum kecut, tangannya terulur ke arah pintu inti yang tertutup rapat.
"Maaf, Aris. Kiran menawarkan posisi permanen di tim elitnya untuk kepalamu," ujar Kael dingin. Tanpa peringatan, ia menekan panel kontrol di dinding. Sinyal pelacak Aris terpancar keras ke seluruh sektor, mengundang gerombolan predator dan—yang lebih buruk—Kiran sendiri.
Dari balik pintu yang bergeser terbuka, sosok Kiran melangkah keluar. Ia tampak anggun, kontras dengan kekacauan industri di sekitarnya. Kiran tidak terburu-buru; ia menikmati keputusasaan Aris yang terjepit di ujung lorong buntu.
"Kau pikir kau bisa bermain dengan memori lantai bawah selamanya?" tanya Kiran, suaranya bergema di antara deru mesin. "Audit sistem tidak akan melindungimu di sini. Di Lantai 3, hukum fisik adalah milik mereka yang memegang akses otoritas."
Aris merasakan tekanan sistem Glitch di kepalanya—sebuah dorongan panas yang menyakitkan. Glitch tidak memberikan statistik, ia memberikan celah. Aris memejamkan mata, memfokuskan sisa kewarasannya pada Inti Memori Lantai 1 yang tersimpan di saku jaketnya. Dengan jemari gemetar, Aris menekan node sistem di pergelangan tangannya, menyuntikkan fragmen memori tersebut ke jaringan lokal Sektor 4.
Seketika, tampilan HUD milik dua anak buah Kiran yang mendekat berkedip merah. Aris membajak umpan visual mereka. Di mata para pengejar itu, rekan mereka sendiri kini terlihat sebagai ancaman. Suara tembakan energi meletus, memenuhi lorong dengan asap ozon dan jeritan kebingungan. Aris memanfaatkan kekacauan tersebut untuk merangkak menuju ruang data tersembunyi yang terdeteksi oleh Glitch.
Di dalam ruang data, Aris menemukan kebenaran yang pahit. Kiran tidak sekadar mencari kekayaan; ia mencari otoritas sistem untuk menghapus catatan auditnya sendiri. Aris menatap data mentah tentang 'Kunci Akses' kuno. Jika Kiran sampai ke inti sebelum dirinya, riwayat hidup Aris di menara akan tamat.
"Jika aku menyerapnya sekarang, berapa peluang sarafku terbakar?" bisik Aris.
"Tujuh puluh persen," jawab Glitch datar. "Namun, ini satu-satunya cara untuk meruntuhkan hukum lantai ini dan melunasi utangmu."
Aris tidak punya waktu untuk ragu. Ia mulai menarik data tersebut langsung ke dalam sistem sarafnya. Rasa sakit yang hebat menghantam otaknya, namun aliran kekuatan mulai mengisi kekosongan statis di HUD-nya. Tepat saat integrasi mencapai 88%, pintu ruang data terbuka dengan dentuman keras.
Kiran berdiri di sana dengan senyum dingin, ditemani oleh Kael yang kini sepenuhnya berpihak padanya. Aris terjebak, tubuhnya kaku karena proses integrasi yang belum sempurna, sementara sistem pusat mulai mengeluarkan peringatan merah: Anomali Terdeteksi.