Novel

Chapter 7: Tier yang Lebih Tinggi

Aris tiba di Lantai 3 dengan beban saraf kritis dan segera terjebak dalam permainan kucing-kucingan dengan elit. Setelah dikhianati oleh seorang informan bernama Kael, Aris terpojok oleh Kiran tepat di depan pintu inti lantai tiga, memaksa Aris untuk menghadapi ancaman langsung di tengah tekanan timer 24 jam.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Tier yang Lebih Tinggi

Gravitasi Lantai 3 menghantam Aris seperti palu godam. Bukan tarikan gravitasi yang stabil seperti di lantai dua, melainkan fluktuasi liar yang membuat isi perutnya serasa teraduk. Aris jatuh berlutut di atas lantai kisi-kisi baja yang bergetar.

[PERINGATAN: Beban Saraf 92%. Stabilitas sistem menurun.] [TIMER ROTASI: 23:59:45]

Di depan matanya, notifikasi sistem berkedip merah, menutupi pandangan. Aris terengah-engah, mencoba mengabaikan rasa sakit yang menjalar dari tulang belakangnya. Lantai 3 bukan sekadar zona pendakian; ini adalah zona perang industrial. Di sekelilingnya, pipa-pipa raksasa menyemburkan uap panas, dan suara dentuman mesin berat bergema dari kejauhan, menutupi langkah kaki siapa pun yang mendekat.

Aris tidak punya waktu untuk memulihkan diri. Dia adalah target berjalan. Rekaman manipulasi Kiran yang dia miliki adalah bom waktu bagi reputasi elit itu, dan Kiran tidak akan membiarkan Aris mencapai puncak lantai ini hidup-hidup.

"Glitch," bisik Aris, suaranya serak. "Status rute."

"Sistem pemetaan terdistorsi oleh hukum lantai," jawab suara mekanis itu. "Namun, deteksi panas menunjukkan tiga tim elit sedang menyapu Sektor 4. Mereka mencari anomali yang baru saja memicu audit sistem di lantai dua. Itu kamu, Aris."

Aris merangkak menuju balik tangki pendingin yang bocor. Dia harus bergerak. Jika dia tetap di titik spawn, dia akan dikepung. Tiba-tiba, seorang pria dengan seragam lusuh—Kael—muncul dari balik bayang-bayang, tangannya terangkat sebagai tanda damai.

"Aku tahu kamu butuh jalan keluar, Pendaki," bisik Kael. Matanya liar, menatap tas Aris. "Aku punya peta rute rahasia yang tidak terdeteksi oleh elit. Berikan aku fragmen memori lantai satu yang kamu bawa, dan aku akan membawamu ke pintu inti sebelum mereka menemukanmu."

Aris menatap Kael. Dia tahu ini adalah pengkhianatan yang menunggu waktu. Namun, beban saraf 92% membuatnya tidak mungkin bertarung dalam durasi panjang. Aris merogoh tasnya, mengeluarkan kristal memori yang sudah ia modifikasi dengan data sampah dari sistem Glitch.

"Ambil," Aris melemparkannya. "Bawa aku ke pintu inti."

Kael menangkap kristal itu, seringai licik menghiasi wajahnya. "Ikuti aku ke lorong sektor C. Itu jalur tercepat."

Aris mengikuti, namun setiap langkahnya terasa berat. Saat mereka mencapai persimpangan sektor C, Kael berhenti mendadak dan menghilang ke balik pipa, meninggalkan Aris sendirian di lorong yang sunyi. Keheningan itu terlalu janggal. Tidak ada suara mesin, tidak ada uap. Hanya suara langkah kaki yang teratur dan elegan.

Aris berbalik. Di ujung koridor, berdiri di bawah cahaya lampu neon yang berkedip, Kiran menunggu. Dia tidak lagi terlihat seperti elit yang dipermalukan. Dia terlihat seperti algojo.

"Kael adalah pion yang murah, Aris," ujar Kiran dingin. "Tapi dia cukup untuk membawamu ke tempat di mana tidak ada kamera publik yang bisa merekam kematianmu."

Di belakang Kiran, pintu inti lantai tiga terbuka perlahan, memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan—sebuah janji akan tier yang lebih tinggi. Aris terjepit. Beban sarafnya berdenyut di angka 92%, menuntut tindakan ekstrem. Dia tidak bisa mundur, dan dia tidak bisa menang dalam kondisi ini. Dia harus bertaruh pada satu-satunya hal yang Kiran tidak miliki: akses ke memori menara yang terhapus.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced