Terobosan yang Terbaca
Gravitasi di Sektor 4, Lantai 2, bukan lagi sekadar gaya tarik; itu adalah tangan besi yang meremukkan tulang. Aris tersungkur, napasnya tersengal di antara deru mesin node yang bergetar liar. Di depannya, layar holografik publik menyala terang, memancarkan wajah angkuh Kiran yang sedang memanipulasi aliran gravitasi untuk memblokir jalur pendaki lain.
"Sistem, eksekusi pembersihan fragmen," bisik Aris. Suaranya serak, tenggelam dalam beban saraf yang kini menyentuh angka 92%. Sistem 'Glitch' merespons dengan denyut biru yang menyakitkan di balik pelipisnya. Aris tidak lagi bertarung melawan gravitasi; ia bertarung melawan hukum yang dipaksakan Kiran. Dengan jemari yang gemetar hebat, ia menanamkan Inti Memori dari lantai satu ke dalam celah node yang terbuka.
BUM.
Bukan ledakan fisik, melainkan ledakan data. Gelombang distorsi visual menyapu seluruh Sektor 4. Di layar publik yang disaksikan jutaan pasang mata, manipulasi Kiran yang sebelumnya terlihat sebagai 'efisiensi elit' tiba-tiba terurai menjadi kode-kode ilegal yang berwarna merah menyala. Penonton di ruang tunggu menahan napas; kebohongan sang elit kini terpampang nyata sebagai garis-garis kecurangan yang merusak kestabilan lantai. Kiran, yang berada di seberang jembatan, terlonjak. Wajahnya yang biasanya tenang berubah pucat. Ia mencoba menstabilkan kendalinya, namun sistem audit otomatis menara—yang dipicu oleh anomali tersebut—segera mengunci aksesnya.
Aris terhuyung, bahunya menghantam dinding logam yang bergetar. Layar retina miliknya berkedip merah terang: Beban Saraf: 98%. Setiap detak jantung terasa seperti tusukan jarum panas yang menjalar ke tulang belakang. Di depannya, distorsi gravitasi yang dibuat Kiran masih berputar liar, menyedot puing-puing logam dan mengubahnya menjadi proyektil mematikan.
"Aris, jika kau tidak segera bergerak, sistem sarafmu akan mengalami shutdown permanen dalam tiga menit," suara dingin Operator 'Glitch' bergema di dalam kepalanya. "Lantai 2 akan melakukan rotasi dalam sepuluh menit. Jika kau gagal, kau akan terkunci di zona mati ini selamanya."
Aris menahan napas, menatap inti lantai yang terletak jauh di ujung koridor. Tangannya gemetar hebat saat ia mencoba menggenggam Inti Memori lantai satu. "Aku tidak bisa... kakiku mati rasa," desisnya.
"Gunakan fragmen memori yang tersisa," perintah Glitch. "Ini bukan sekadar data. Ini adalah memori tentang cara menstabilkan aliran energi di bawah tekanan ekstrem. Namun, ingat, kau harus membayar harganya dengan ingatan jangka pendekmu. Mungkin kau akan lupa siapa namamu, atau kenapa kau berada di sini, tapi kau akan bisa berjalan."
Aris tidak punya pilihan. Ia menekan Inti Memori ke dadanya. Rasa dingin yang menusuk tulang menyerbu otaknya, mengaburkan identitasnya demi satu tujuan: langkah kaki. Ia bergerak maju, melintasi puing-puing yang melayang, menembus zona gravitasi yang kini mulai runtuh akibat audit sistem.
Saat Aris mencapai pintu masuk inti lantai dua, ia menoleh ke belakang. Kiran masih terkunci dalam sistem audit, wajahnya yang penuh amarah kini menjadi tontonan publik yang memalukan. Aris tidak menunggu sorakan. Ia menembus inti, mengklaim reward tier tinggi yang langsung memicu pembaruan statusnya sebagai Pendaki Progresif.
Namun, kemenangan itu tidak bertahan lama. Begitu ia melangkah keluar dari inti, gerbang menuju Lantai 3 terbuka lebar. Aris tidak punya waktu untuk beristirahat. Udara di depannya berubah, lebih dingin dan tajam. Tidak ada lagi hukum gravitasi yang bisa dimanipulasi dengan trik lama; lantai ini adalah zona perang terbuka.
Peta yang muncul di retinanya menunjukkan dataran tandus dengan menara-menara pengawas yang aktif menembak setiap pendaki yang tidak terdaftar. Sebuah timer merah menyala di sudut pandang Aris: 24:00:00. Detik pertama sudah meluncur. Aris memeriksa sisa perlengkapannya. Ia hanya memiliki sisa energi yang sedikit dari Inti Memori lantai satu dan sebuah target buruan di punggungnya. Timer 24 jam dimulai. Aris terperangkap di zona perang lantai 3 tanpa perlengkapan memadai.