Novel

Chapter 7: Skandal yang Tak Terelakkan

Elena menghadapi krisis publik saat identitasnya sebagai pengantin pengganti bocor ke media. Adrian mengambil tindakan drastis dengan memecat orang kepercayaannya di depan para investor untuk menutupi kebocoran tersebut, sekaligus mempertegas posisi Elena sebagai miliknya di tengah badai skandal.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Skandal yang Tak Terelakkan

Cahaya matahari pagi yang menembus jendela kaca penthouse Adrian terasa seperti sorot lampu interogasi. Di atas meja kerja mahoni yang biasanya rapi, tumpukan dokumen audit berserakan—sebuah anomali yang mencerminkan kekacauan di balik layar Wiryawan Group. Elena berdiri di sana, jemarinya mencengkeram kertas laporan yang baru saja ia ambil dari brankas pribadi Adrian. Angka-angka itu tidak berbohong: pengalihan aset properti mewah atas namanya telah memicu alarm di dewan direksi. Bagi mereka, Elena bukan lagi sekadar istri; ia adalah lubang hitam yang menyedot likuiditas perusahaan.

"Kau sudah melihatnya?" Suara Adrian memecah keheningan. Pria itu berdiri di ambang pintu, kemeja kerjanya belum terpasang sempurna. Tidak ada sisa-sisa ketenangan pewaris yang tak tersentuh di wajahnya; hanya ada ketajaman seorang pria yang sedang bertaruh di atas meja judi yang terbakar.

Elena melempar berkas itu ke meja. "Ini bukan perlindungan, Adrian. Ini umpan. Kau mengalihkan aset ini agar dewan direksi memaksaku keluar. Dengan begitu, kau punya alasan sah untuk membatalkan kontrak pernikahan ini tanpa harus menanggung penalti finansial yang besar."

Adrian melangkah mendekat, auranya yang dominan memaksa Elena untuk tetap di tempatnya. Ia tidak menyangkal. "Tujuannya adalah stabilitas. Dewan direksi sedang mencari kambing hitam atas pelarian Arini. Jika mereka fokus padamu, mereka tidak akan mengulik investigasi internal yang bisa menghancurkan posisi direksiku. Kau adalah perisai, Elena. Bukan umpan."

"Perisai yang akan hancur saat mereka mengetahui siapa aku sebenarnya," sahut Elena dingin. Ponselnya tiba-tiba berdenting, memotong ketegangan di antara mereka. Notifikasi media sosial muncul: sebuah foto lama dirinya di acara amal, disandingkan dengan foto pernikahannya. Identitasnya sebagai pengantin pengganti kini menjadi konsumsi publik.

*

Ballroom Hotel Adiwangsa malam itu terasa seperti penjara sosial yang dirancang untuk mempermalukan. Elena berdiri di samping Adrian, merasakan betapa tipisnya kain gaun sutra yang ia kenakan untuk menutupi gemetar di jemarinya. Di depan mereka, para direktur Wiryawan Group berbisik-bisik, mata mereka lebih tajam dari belati, sementara wartawan di balik barikade keamanan mulai membidikkan lensa kamera dengan agresif.

"Senyum, Elena," bisik Adrian. Suaranya rendah, nyaris tak terdengar di balik denting gelas sampanye, namun perintah itu mutlak. "Jika kau terlihat rapuh sekarang, saham perusahaan akan terjun bebas sebelum tengah malam. Ingat, kau adalah aset yang harus tetap bernilai."

"Apakah ini cara kerjamu? Membeli kesetiaan dengan jaminan aset yang justru membuat posisimu terancam?" Elena membalas, matanya menatap lurus ke depan, menolak untuk menunjukkan ketakutan.

Adrian tidak menoleh. Ia menyesap minumannya dengan tenang, meski urat di pelipisnya menegang. "Aku tidak membeli kesetiaan. Aku sedang mengamankan perisai. Jika kau jatuh, aku tidak punya alasan untuk menahan badai ini sendirian."

Suasana ballroom mendadak riuh. Seorang direktur senior mendekat, ponselnya menunjukkan bukti foto masa lalu Elena yang lebih eksplisit. Adrian tidak menunggu. Ia memanggil kepala keamanannya, namun pria itu justru terlihat pucat dan ragu. Dengan gerakan dingin yang mematikan, Adrian menarik kerah jas pria itu dan berbisik pendek. Dalam hitungan detik, orang kepercayaan itu diseret keluar di bawah pengawasan ketat, meninggalkan keheningan yang mencekam di antara para tamu.

*

Limusin hitam meluncur membelah dinginnya malam Jakarta. Di dalam kabin, gaun sutra itu terasa seperti baju zirah yang mulai retak.

“Kau memecat kepala keamananmu di depan para investor, Adrian. Itu bunuh diri reputasi,” suara Elena bergetar.

Adrian menoleh, menatap Elena dengan intensitas yang lebih berbahaya dari sekadar bisnis. “Keamanan adalah ilusi. Dia adalah orang yang membocorkan detail kontrak awal kita. Memecatnya adalah satu-satunya cara untuk membungkam skandal itu agar tidak menyebar ke ranah hukum yang lebih dalam.”

“Dengan mengorbankan posisimu sendiri?”

Adrian tertawa pelan, suara yang tidak mencapai matanya. “Mereka tidak melihat pengkhianatan, Elena. Mereka melihat seorang pria yang bersedia menghancurkan segalanya demi menjaga apa yang menjadi miliknya.”

Saat mereka tiba di Wiryawan Tower, notifikasi baru membanjiri ponsel Elena. Foto-foto masa lalu yang lebih eksplisit tersebar luas, memicu badai di media sosial. Mereka bukan lagi sekadar pasangan, melainkan target utama skandal nasional. Adrian menatap layar itu, lalu menatap Elena dengan intensitas yang mengunci mereka dalam isolasi total. Tidak ada jalan keluar selain saling bergantung.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced