Kepercayaan yang Mahal
Lampu kristal di Ballroom Hotel Adiwangsa tidak lagi memancarkan kemewahan, melainkan menyorot Elena dengan intensitas yang menghakimi. Di sekelilingnya, bisik-bisik para tamu undangan terdengar seperti dengung lebah yang siap menyengat. Berita tentang identitas aslinya sebagai pengantin pengganti telah menyebar, lengkap dengan foto-foto masa lalunya yang kini terpampang di layar ponsel para investor.
Adrian berdiri di sampingnya, tubuhnya yang tegap terasa seperti benteng yang dingin dan tak tertembus. Pria itu baru saja memecat kepala keamanannya di depan mata para pemegang saham—sebuah tindakan impulsif yang mempertaruhkan stabilitas internal perusahaannya hanya untuk membungkam kebocoran informasi yang menyudutkan Elena.
"Mereka tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan kepala kita, Adrian," bisik Elena, suaranya nyaris tak terdengar di balik denting gelas sampanye. Ia menegakkan punggung, menolak untuk terlihat hancur di depan kamera wartawan yang mulai berkerumun di balik barikade keamanan.
Adrian tidak menjawab. Ia justru meraih tangan Elena, jemarinya yang dingin mencengkeram erat, memberikan tekanan yang posesif sekaligus protektif. Cengkeraman itu adalah pernyataan kepemilikan yang dipaksakan di tengah badai skandal. Di mata publik, Adrian sedang mempertaruhkan reputasi Wiryawan Group demi membela pengantinnya. Namun, Elena tahu harga di balik perlindungan itu—dan itu bukan sekadar uang.
Pintu ruang kerja VVIP tertutup dengan bunyi debaman yang final, mengunci suara riuh rendah dari aula ballroom. Adrian melepaskan dasinya dengan gerakan kasar, sebuah retakan pada topeng ketenangannya yang sempurna.
"Saham Wiryawan turun empat persen dalam satu jam, Adrian. Memecat kepala keamananmu di depan investor tidak akan membuat angka itu naik kembali," ujar Elena tajam.
Adrian berhenti bergerak. Ia menatap Elena, matanya yang kelabu sedingin es menelusuri wajah wanita itu. "Kepala keamanan itu adalah orang yang membocorkan kontrak pernikahan kita. Dia memilih uang daripada loyalitas. Jika aku membiarkannya, dia akan menjual posisimu di perusahaanku."
"Dan sekarang aku menjadi satu-satunya alasan posisimu di dewan direksi terancam," balas Elena, melangkah mendekat. "Apakah mengorbankan reputasimu untuk wanita yang bahkan tidak kau kenal sebulan lalu sepadan dengan risiko kebangkrutan yang kau hadapi?"
Adrian tertawa pendek, sebuah dengusan yang sarat akan ironi. "Kepercayaan adalah komoditas langka bagiku, Elena. Sampai kau hadir, aku tidak pernah benar-benar mempercayai siapa pun. Hari ini, aku baru saja membuang salah satu aset berhargaku untuk membelikanmu ketenangan."
Mereka bersembunyi di taman belakang hotel yang sunyi, menjauh dari kejaran wartawan. Di bawah naungan pohon-pohon rindang, Elena menyentuh kerah jas Adrian—gestur sederhana yang terasa seperti sebuah kompromi. Ia tidak menuntut cinta, hanya menawarkan dukungan yang pragmatis. Adrian menangkap pergelangan tangan Elena, menahan gerakan wanita itu dengan cengkeraman yang menunjukkan betapa ia membutuhkan jangkar di tengah kekacauan ini.
Kembali di suite hotel, Elena duduk mematung di depan meja mahoni. Ia meninjau kembali klausul dalam kontrak pernikahan yang sempat ia abaikan. Matanya tertuju pada bagian 'Penyelesaian Sengketa dan Kompensasi'. Adrian telah menyisipkan celah hukum yang spesifik: jika terjadi kebocoran informasi akibat kelalaian internal pihak pria, Elena berhak atas hak veto penuh terhadap seluruh aset yang dialihkan kepadanya sebagai mitigasi risiko.
Elena menatap Adrian yang sedang tertidur lelap di sofa, kelelahan setelah badai hari itu. Ia menyadari bahwa dokumen ini bukan lagi sekadar ikatan pernikahan, melainkan senjata yang bisa menghancurkan pria yang telah melindunginya. Ia kini memegang kendali atas masa depan Adrian, dan ironisnya, ia merasa lebih aman berada di bawah perlindungan pria itu daripada di dunia luar yang kini mengenalnya sebagai pengantin pengganti yang memalukan.