Harga Sebuah Perlindungan
Lampu meja di ruang kerja lantai empat puluh Wiryawan Tower berdengung rendah, satu-satunya suara di tengah keheningan yang menyesakkan. Elena menatap layar monitor di hadapannya dengan napas tertahan. Laporan internal yang ia buka bukan sekadar deretan angka—itu adalah catatan keruntuhan aset yang sistematis. Sejak Adrian memutuskan untuk menghancurkan Mr. Tan secara hukum demi membungkam pemerasan terkait identitas Elena, reaksi pasar tidak menunggu lama. Saham perusahaan Adrian merosot tajam dalam dua belas jam terakhir. Investor melihat tindakan agresif Adrian sebagai ketidakstabilan emosional yang berbahaya bagi konsorsium mereka.
"Nyonya?" Suara asisten Adrian memecah lamunan Elena. Pria itu berdiri di ambang pintu, membawa tumpukan dokumen yang tampak seperti surat pengunduran diri dari beberapa pemegang saham minoritas. "Tuan Adrian sedang rapat dengan dewan direksi. Mereka menuntut penjelasan mengenai pengalihan dana darurat yang digunakan untuk menutupi kerugian aset keluarga Anda kemarin."
Elena merasakan dingin menjalar di tengkuknya. Ia tahu perlindungan Adrian memiliki harga, namun ia tidak menyangka harga itu dibayar dengan stabilitas perusahaan pria itu sendiri. "Dia mengalihkan dana itu atas namanya sendiri?" tanya Elena, suaranya nyaris berbisik.
"Tuan Adrian bersikeras bahwa itu adalah tanggung jawabnya sebagai mitra utama," jawab asisten itu datar sebelum berlalu. Elena tidak lagi menjadi bidak pasif. Ia meraih kontrak pernikahan yang tersimpan di laci meja, mencari celah kompensasi yang bisa ia gunakan untuk menghentikan kejatuhan ini.
Saat ia mendatangi ruang kerja Adrian, pria itu masih duduk di kursi eksekutifnya, dikelilingi oleh tumpukan dokumen seperti nisan bagi reputasi perusahaan. Udara ruangan terasa berat oleh angka-angka merah di layar monitor utama.
"Saham Wiryawan turun empat persen pagi ini," ujar Elena, suaranya tajam. "Ini akibat langsung dari tindakanmu membungkam Mr. Tan. Kau menghancurkan kariernya, tapi kau juga menyeret namamu ke dalam lumpur skandal."
Adrian tidak mendongak. Pena mahalnya bergerak lincah di atas kontrak merger. "Kau menghitung kerugianku, Elena? Itu bukan tugasmu sebagai istri kontrak."
"Aku bukan sekadar pajangan di ballroom hotelmu," Elena melangkah maju, meletakkan nampan kopi yang ia bawa dengan dentuman pelan. "Aku tahu kau menggunakan pernikahan ini untuk mengamankan kursi direksi. Jika sahammu terus jatuh karena melindungiku, kau tidak akan punya aset tersisa untuk dikuasai."
Adrian akhirnya berhenti menulis. Ia menyandarkan punggung ke kursi kulitnya, menatap Elena dengan tatapan kalkulatif yang dingin. "Aku tidak mengorbankan apa pun yang tidak bisa aku ganti. Kau adalah aset yang sudah aku pilih, Elena. Melindungimu adalah investasi, bukan kerugian."
Elena terdiam. Saat ia hendak membalas, matanya menangkap dokumen pengalihan aset di sudut meja. Adrian telah memindahkan sebagian besar kepemilikan properti pribadinya atas nama Elena—sebuah langkah mitigasi jika dewan direksi memaksanya mundur.
"Ini gila," bisik Elena, tangannya gemetar saat menyentuh dokumen itu. "Kau mengorbankan posisimu demi melindungiku dari dampak skandal yang kau ciptakan sendiri?"
Adrian bangkit, mendekat hingga jarak mereka hanya sejengkal. Aroma kayu cendana yang memikat kini terasa seperti jebakan. "Aku tidak pernah kalah dalam permainan catur, Elena. Aku hanya sedang memancing lawan keluar dari persembunyiannya."
Namun, ketenangan mereka pecah saat notifikasi ponsel Adrian berbunyi tanpa henti. Sebuah foto masa lalu Elena sebagai pengantin pengganti telah bocor ke media sosial, tersebar luas dengan narasi yang menghancurkan. Adrian menatap layar ponsel dengan dingin, menunjukkan bahwa ia sudah mengantisipasi ini, namun dampak gelombang publiknya jauh lebih besar dari yang ia duga. Elena menyadari bahwa satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan berdiri di samping Adrian, meskipun itu berarti ia harus kehilangan sisa martabat yang ia miliki.