Novel

Chapter 11: Gerbang Ketiga

Aris berhasil menembus keamanan lantai tiga dengan mengorbankan stabilitas meridiannya. Di sana, ia menemukan rahasia kelam bahwa lantai tiga menyerap energi dari lantai bawah. Setelah memicu alarm keamanan, ia melarikan diri menuju tangga darurat, di mana sebuah suara misterius dari puncak menara menyatakan bahwa audisi sebenarnya baru saja dimulai.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Gerbang Ketiga

Sensor pemindai di gerbang lift lantai tiga memancarkan cahaya biru yang menyayat meridian Aris. Angka 14% stabilitas pada cakram internalnya berdenyut liar, memicu alarm senyap yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang memiliki koneksi sistemik. Aris berdiri kaku, menahan napas saat sensor menara memindai lencana elit pemberian Jia.

"Identitas terverifikasi. Status: Elit. Akses diizinkan," suara mekanis menara bergema dingin. Namun, pintu lift tidak terbuka. Sebuah lampu merah berkedip—sensor mendeteksi ketidakstabilan energi sisa dari teknik terlarang yang ia gunakan untuk meruntuhkan sindikat lantai dua. Aris terjebak dalam ruang transisi steril berukuran dua kali dua meter.

Aris tidak membuang waktu dengan kepanikan. Ia tahu sistem menara adalah pasar yang bisa dimanipulasi. Dengan tangan gemetar, ia menyalurkan sisa energi dari Cakram Hitam yang retak ke lencana elit tersebut. Itu adalah pertaruhan gila; jika ia gagal, cakramnya akan hancur total. Ia mengorbankan 2% stabilitas meridiannya sebagai biaya suap kepada sensor sistem. "Verifikasi ulang sedang berlangsung," suara mekanis itu berubah nada, menjadi lebih rendah, sebelum akhirnya pintu geser terbuka dengan desis hidrolik yang berat.

Lantai tiga menyambutnya dengan aroma ozon yang tajam dan kemewahan yang dingin. Di sekelilingnya, para kultivator elit berpakaian sutra tenun energi menatapnya dengan pandangan dingin yang menghitung. Fokus Aris tertuju pada meja utama, tempat Jia berdiri dengan segelas nektar transparan.

"Kau datang lebih cepat dari yang kubayangkan, Aris," ujar Jia. Suaranya datar, tatapannya menguliti Aris seolah mencari keretakan pada lencana elit yang baru saja ia sematkan di dada.

"Lantai dua sudah tidak menyisakan ruang untuk bernapas," balas Aris, suaranya tenang meski rasa sakit di dadanya semakin menusuk. Ia mengeluarkan bukti transaksi korupsi tetua akademi, memegangnya secara kasual. "Aku butuh akses ke ruang arsip, Jia. Atau dokumen ini akan menjadi bacaan publik bagi para inspektur yang sedang mengawasi kenaikan peringkatku."

Jia terkekeh, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan pedang di atas sutra. Ia menyerahkan kunci akses digital tanpa perlawanan. "Kau pikir kau naik karena prestasimu? Kau hanyalah pion yang sedang dimainkan di papan yang jauh lebih besar, Aris. Masuklah. Lihat sendiri apa yang menopang kemewahan ini."

Aris melesat menuju ruang arsip. Dengan akses lencana elit, ia menembus enkripsi dan membuka arsip pusat. Matanya membelalak membaca catatan kuno yang tersembunyi di balik lapisan kode. Lantai tiga dibangun di atas fondasi energi yang diserap paksa dari kultivator lantai bawah. Teknik terlarang yang ia miliki selama ini—yang ia kira sebagai kutukan—ternyata adalah kunci untuk membalikkan aliran energi tersebut.

Alarm menara mendadak melengking. Keamanan elit—bayangan berseragam perak—mengepung koridor. "Penyusup dengan lencana curian," suara salah satu penjaga bergema. "Protokol lantai tiga tidak mengenal belas kasihan bagi anomali."

Aris tidak punya ruang untuk bernegosiasi. Meridiannya kini menyentuh batas 5%. Dengan satu gerakan tajam, ia menabrakkan sisa energi limbahnya ke dinding artefak koridor. Ledakan energi yang tidak stabil menciptakan distorsi ruang yang memaksa para penjaga mundur. Saat kekacauan terjadi, Aris melompat ke tangga darurat, napasnya terasa seperti menelan serpihan kaca.

Saat ia mencapai ujung koridor, sebuah suara—bukan dari speaker menara, melainkan bergema langsung di dalam jiwanya—memanggil namanya dari puncak tertinggi. "Audisi yang sebenarnya baru saja dimulai, Aris." Aris menatap ke atas, menyadari bahwa lantai tiga hanyalah awal dari labirin yang jauh lebih mematikan.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced