Undangan Lantai Atas
Bau ozon dan sisa pembakaran mana masih menyesaki paru-paru Aris saat ia berdiri di tengah Arena Ujian yang sunyi. Lantai batu yang tadinya menjadi saksi bisu duel maut kini retak, menyisakan jejak energi yang tidak stabil dari Cakram Hitam yang baru saja ia paksa bekerja melampaui batas. Aris terbatuk, darah segar mengotori punggung tangannya. Meridiannya menjerit—sensasi panas yang merambat seperti jarum berkarat, sisa dari teknik terlarang yang ia gunakan untuk memanipulasi audit sekte.
Di sekelilingnya, sistem menara mulai memproses kemenangan tersebut. Cahaya biru transparan menyapu arena, menghapus sisa-sisa energi sindikat yang telah hancur total. Aris tahu ia tidak punya waktu banyak. Otoritas akademi, yang kini terpojok oleh bukti korupsi yang ia sebarkan ke publik, pasti akan segera tiba. Mereka tidak akan membiarkan 'anomali' seperti dirinya tetap hidup setelah menghancurkan ladang uang mereka di lantai dua. Aris segera menekan telapak tangannya ke permukaan lantai yang dingin, mengalirkan sisa energi dari Cakram Hitam ke dalam meridiannya sendiri. Ia mengubah rasa sakit yang akut itu menjadi data sistem yang terenkripsi, menyegel jalur energinya agar tidak terdeteksi sebagai pengguna teknik terlarang saat tim audit tiba. Setiap detak jantung terasa seperti hantaman palu di dadanya, namun layar statusnya berkedip emas: Peringkat Elit Terverifikasi. Akses Lantai 3 Terbuka.
Langkah Aris terhenti di persimpangan lorong remang-remang saat ia hendak meninggalkan arena. Jia berdiri di balik bayang-bayang pilar, tangannya bersedekap, menatap Aris dengan mata yang tidak lagi memancarkan kebencian, melainkan kalkulasi dingin.
"Lantai tiga tidak akan menyambutmu dengan karpet merah, Aris," suara Jia memotong kesunyian seperti pisau bedah. Aris menyeka keringat dingin di dahinya, menahan napas agar tidak menunjukkan kelemahan meridiannya yang retak. "Aku tidak butuh sambutan. Aku butuh akses."
Jia melangkah maju, sepatu botnya beradu dengan lantai batu dengan gema yang berat. "Lantai tiga adalah tempat di mana para tetua menyembunyikan sisa-sisa sejarah menara yang tidak ingin mereka ketahui oleh publik. Korupsi yang kau bongkar di lantai dua hanyalah riak kecil. Di atas sana, setiap langkahmu adalah komoditas yang bisa diperjualbelikan. Nyawa tidak lagi memiliki harga pasar, hanya efisiensi." Jia menyerahkan sebuah lencana kristal yang memancarkan cahaya redup. "Gunakan ini. Bukan sebagai sekutu, tapi sebagai peringatan bahwa aku membiarkanmu naik hanya untuk melihat seberapa cepat kau akan hancur oleh kebenaran yang kau cari."
Lift kristal itu berdengung rendah saat Aris menempelkan lencana elitnya. Getaran frekuensi tinggi terasa hingga ke sumsum tulangnya. Notifikasi sistem muncul di udara: 'Akses Terverifikasi: Lantai 3. Peringatan: Stabilitas meridian pengguna berada di ambang batas 14%.' Aris menyeringai tipis. Baginya, angka 14% hanyalah variabel yang bisa dimanipulasi selama ia memiliki cukup sumber daya.
Saat pintu lift terbuka, ia tidak disambut oleh kemewahan, melainkan taman gantung dengan struktur arsitektur yang tampak seperti kristal organik yang tumbuh dari dinding menara. Tekanan atmosfer di sini jauh lebih berat, seolah udara tersebut dipanen langsung dari energi lantai-lantai di bawahnya. Aris melangkah keluar, menyadari bahwa promosi ini adalah jebakan sistem untuk memanen meridiannya yang rusak. Namun, di pusat kendali ini, ia bukan lagi mangsa. Ia adalah virus yang baru saja masuk ke jantung sistem, siap mengubah rahasia penciptaan menara menjadi senjata untuk pendakian berikutnya.