Puncak Lantai Dua
Lantai dua bergetar. Bukan karena gempa, melainkan karena jeritan sistem yang sekarat. Dari balkon utama, Aris menatap lorong pasar yang biasanya penuh transaksi kini berubah menjadi zona perang. Layar proyeksi di sudut ruangan berkedip merah, menampilkan data korupsi tetua akademi yang ia bocorkan semalam. Nilai tukar energi anjlok, memicu kepanikan massal; tabungan para kultivator menguap dalam hitungan detik.
"Kau pikir ini permainan, Tikus Lantai Bawah?" suara berat itu memecah kebisingan. Kael, pemimpin sindikat Penguasa Jalur, melangkah keluar dari bayang-bayang pilar beton. Jubah sutra premiumnya kontras dengan wajahnya yang pucat pasi. Di belakangnya, selusin pengawal bersenjata artefak penyerap energi mengepung balkon, memutus satu-satunya jalan keluar Aris. Aris meraba cakram hitam di balik jubahnya; benda itu berdenyut panas, selaras dengan meridiannya yang retak akibat teknik terlarang.
"Pasar tidak hancur karena aku, Kael," sahut Aris tenang, suaranya diperkuat aliran energi agar terdengar hingga ke kerumunan di bawah. "Pasar hancur karena kalian menyedot inti energi lantai dua untuk kantong pribadi tetua."
Kael tertawa sinis, namun matanya memindai kerumunan yang mulai berteriak menuntut keadilan. "Tuduhan kosong tidak akan menyelamatkanmu. Jika kau merasa benar, kita selesaikan di Arena Ujian. Duel maut. Satu-satunya cara memulihkan wibawa sindikat adalah dengan kepalamu."
*
Bau ozon dan kabel terbakar menyengat di lorong Sektor Terlarang. Aris bersandar pada dinding logam, napasnya pendek dan panas. Setiap tarikan napas terasa seperti gesekan amplas di paru-parunya—harga dari sabotase semalam.
"Kau terlihat seperti mayat hidup," suara dingin memecah kesunyian. Jia muncul dari balik pilar, seragam akademinya yang putih bersih tampak kontras dengan kekacauan di sekitar mereka.
Aris menatap Jia, matanya menyipit. "Kael menyebarkan undangan duel itu ke seluruh lantai dua. Dia akan memastikan sistem keamanan 'tidak sengaja' gagal berfungsi saat dia menghancurkanku."
Jia melangkah maju, jemarinya memainkan liontin perak—sensor auditor sekte. "Kael punya koneksi dengan tetua akademi. Mereka ingin kau mati agar bukti korupsi itu terkubur. Tapi, aku tidak suka jika pion yang kuatur gerakannya dihancurkan oleh pemain kasar seperti dia." Jia menatap Aris intens. "Aku akan mengaktifkan sensor audit selama duel. Itu memaksa Kael bermain sesuai aturan menara. Jika dia melanggar, sistem akan melumpuhkannya."
Aris mengeluarkan Cakram Hitam yang retak. "Bukan hanya itu. Aku sudah memetakan kelemahan struktur energi Arena. Selama audit aktif, aku akan memutar balik aliran energi sindikat melawan dirinya sendiri."
*
Arena Ujian Lantai Dua bergetar oleh deru napas ribuan kultivator. Di tengah arena, Kael berdiri dengan mata merah menyala. Papan skor digital berkedip liar. Kael melesat maju, tombak cahaya murni terbentuk di tangannya. Serangan itu brutal, ditujukan tepat ke jantung Aris.
Aris tidak menghindar. Ia melangkah maju, membiarkan tombak itu hampir menyentuh kulitnya, sebelum memutar tubuh dan mengaktifkan cakramnya. Bzzzt! Percikan energi biru meledak saat cakram itu menyerap densitas serangan Kael. Aris memanipulasi aliran energi Arena, membuat serangan Kael berbalik menjadi beban bagi sistem energi sindikat itu sendiri.
Kael memekik saat aliran energinya tersedot balik ke meridiannya sendiri. Tubuhnya kaku, terkunci oleh hukum sistem yang dipicu sensor audit Jia. Aris tidak membuang waktu; ia melepaskan serangan balik fatal, menghantam titik pusat energi Kael. Pemimpin sindikat itu tumbang.
*
Debu beton sisa penghancuran segel energi masih menari di udara saat terminal sistem berpendar pucat. Aris menyentuh antarmuka kristal yang dingin.
[AUDIT PASCA-DUEL SELESAI] [STATUS: KEMENANGAN SAH] [KORUPSI SINDIKAT: TERKONFIRMASI]
Notifikasi sistem muncul, membersihkan nama Aris. Bukti transaksi korupsi kini terintegrasi, mengubahnya dari buronan menjadi pahlawan yang mengungkap busuknya tatanan lantai dua. Di kejauhan, Jia berdiri di antara kerumunan, matanya menyipit—bukan lagi dengan tatapan meremehkan, melainkan perhitungan dingin.
Tiba-tiba, layar status Aris berkedip tajam. Sebuah undangan resmi muncul dengan huruf emas: [PROMOSI TINGKAT ELIT: AKSES LANTAI TIGA DIBUKA].
Aris menatap lantai atas menara. Kemenangan ini hanyalah pintu masuk ke tantangan yang lebih mematikan. Lantai dua telah jatuh, namun lantai tiga baru saja mulai menatapnya dengan ancaman baru.