Sabotase Pasar
Udara di gudang energi Lantai Dua terasa seperti logam cair yang membakar paru-paru. Aris terhuyung, punggungnya menghantam rak distribusi yang bergetar hebat. Di tangannya, Cakram Hitam retak itu berdenyut, menyerap sisa energi liar yang bocor dari sirkuit yang baru saja ia hancurkan. Darah segar menetes dari sudut bibirnya, membasahi kerah baju yang sudah kotor oleh debu menara.
"Kita punya waktu kurang dari dua menit sebelum penjaga menyadari anomali ini," desis Jia. Ia berdiri di ambang pintu, pedang tipisnya sudah terhunus, matanya memindai lorong dengan ketenangan yang menakutkan. "Jika mereka menangkap kita dengan bukti transaksi tetua itu, tidak akan ada pengadilan. Hanya eksekusi di tempat."
Aris mengabaikan rasa sakit yang merobek meridiannya. Ia menancapkan Cakram Hitam ke terminal pusat. Layar kristal di hadapannya memancarkan cahaya merah yang berkedip liar—tanda bahwa sistem distribusi energi sindikat 'Penguasa Jalur' telah kehilangan stabilitas.
"Sudah selesai," gumam Aris. Ia menekan satu perintah terakhir: Broadcast.
Dalam sekejap, bukti transaksi korupsi yang menghubungkan sindikat dengan para tetua akademi terunggah ke seluruh papan informasi publik di Lantai Dua. Aris tidak berhenti di sana. Ia menggunakan sisa poin kultivasinya untuk melakukan short-selling besar-besaran pada aset energi sindikat. Ia bertaruh pada kehancuran mereka.
Di luar gudang, teriakan panik mulai pecah. Suara logam beradu dan langkah kaki yang kacau memenuhi lorong. Aris menarik napas panjang, merasakan meridiannya yang rusak berdenyut nyeri—biaya yang harus ia bayar untuk menggunakan teknik terlarang ini.
Mereka berlari menuju alun-alun pasar. Pemandangan di sana adalah kekacauan murni. Para pedagang yang berafiliasi dengan sindikat berteriak histeris saat melihat saldo aset mereka menguap di papan layar. Nilai energi inti yang selama ini mereka monopoli anjlok drastis. Kepercayaan pasar telah hancur.
"Kau telah memicu longsoran yang tidak bisa kau hentikan, Aris," ujar Jia, suaranya dingin namun terselip kekaguman yang enggan. "Tetua sekte yang terlibat akan mencari kambing hitam. Kau baru saja menempatkan target di punggungmu sendiri."
"Aku tidak butuh mereka mencariku, Jia. Aku butuh mereka merasa takut kehilangan kendali," sahut Aris. Ia menatap Cakram Hitam di tangannya yang kini memancarkan cahaya redup tidak stabil.
Tiba-tiba, kerumunan di alun-alun terbelah. Pemimpin Sindikat melangkah maju, wajahnya merah padam karena amarah. Ia tidak membawa pasukan; ia membawa segel tantangan resmi akademi.
"Kau pikir kau bisa bermain dengan api dan tidak terbakar, tikus kecil?" suaranya menggelegar, membuat suasana pasar yang riuh mendadak sunyi. Ia mengangkat segel itu tinggi-tinggi. "Pasarku hancur, dan kau kehilangan pijakan di lantai ini. Aku tidak akan memburu tikus di gang. Aku akan mengulitimu di depan mata semua orang di Arena Ujian."
Aris terdiam. Sistem menara segera merespons tantangan itu; status mereka terkunci. Ia tidak bisa menolak. Ia baru saja memenangkan perang ekonomi, namun kemenangan itu justru menyeretnya ke dalam duel maut yang tak terelakkan. Ia telah membuka tangga berikutnya, namun tangga itu kini dipenuhi duri.