Tangga yang Tak Berujung
Alarm lantai tiga meraung, suara melengking yang memicu sensor meridian di sekujur tubuh Aris. Ia tersungkur di balik pilar penyangga sektor 3-B, napasnya tersengal. Stabilitas meridiannya berkedip di angka 5 persen—garis merah yang berarti kehancuran total jika ia memaksakan satu teknik lagi.
Di ujung koridor, zirah hitam para Penjaga Elit memantulkan cahaya lampu neon yang berkedip. Mereka tidak sekadar berpatroli; mereka sedang melakukan pembersihan sistemik. Aris menggenggam cakram kristal berisi bukti transaksi korupsi para tetua. Ini bukan sekadar data; ini adalah surat kematian bagi siapa pun yang memegangnya di lantai ini.
"Target terdeteksi. Kunci akses Sektor 3-B," suara mekanis bergema. Aris tidak punya waktu untuk bersembunyi. Ia melakukan satu-satunya hal yang bisa membalikkan keadaan: ia menancapkan cakram kristal ke terminal publik koridor, mengalirkan sisa energi meridiannya yang kritis untuk meretas jaringan siaran lantai tiga.
Layar-layar raksasa di sepanjang koridor tiba-tiba berubah. Data transaksi gelap, daftar lantai yang energinya dikuras paksa, dan nama-nama tetua yang terlibat terpampang jelas. Kekacauan meledak. Para elit yang tadinya angkuh kini saling tuduh, sementara para penjaga terhenti, bingung antara memburu Aris atau mengamankan reputasi tuan mereka.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Jia muncul dari balik bayangan. Ia tidak menyerang. Ia hanya berdiri, menatap Aris dengan tatapan tajam yang sulit dibaca.
"Kau membakar jembatanmu sendiri, Aris," ujar Jia dingin. "Data itu tidak akan menjatuhkan mereka, hanya membuatmu menjadi target prioritas tertinggi."
"Aku tidak butuh mereka jatuh hari ini," sahut Aris, memaksakan diri berdiri meski meridiannya terasa seperti disayat pisau. "Aku hanya butuh akses ke Ruang Stabilisasi. Jika aku mati di sini, bukti ini akan terkunci permanen di sistem. Kau mau itu?"
Jia terdiam. Ia tahu nilai dari bukti tersebut. Dengan satu gerakan tangan, ia menonaktifkan penghalang lorong terlarang. "Masuk. Tapi ingat, meridianmu yang hancur itu tidak akan bertahan lama. Jika kau gagal membalikkan polaritas ruang itu, kau akan meledak menjadi debu energi."
Aris melangkah masuk ke Ruang Stabilisasi. Ruangan itu dingin, penuh dengan dengungan mesin penyedot energi yang merampas kehidupan dari lantai-lantai bawah. Ia menancapkan lencana elitnya ke slot kendali utama. Saat teknik terlarangnya aktif, meridiannya berubah menjadi filter limbah, menyedot energi kasar dari sistem menara untuk menstabilkan dirinya sendiri.
Rasa sakit yang luar biasa menghantamnya, namun Aris memutar katup distribusi energi. Alih-alih menyalurkan daya ke unit elit, ia membalikkan polaritasnya. Ledakan energi statis meletus, melumpuhkan mekanisme ekstraksi di seluruh lantai tiga. Menara berguncang hebat.
Di tengah guncangan itu, sebuah suara berat dan kuno bergema di benaknya, mengabaikan semua kepanikan di sekitarnya. "Aris... pendakianmu baru saja dimulai. Selamat datang di audisi sesungguhnya."
Aris menatap tangga spiral yang kini terbuka menuju lantai empat. Ia bukan lagi sekadar buronan; ia adalah gangguan pasar yang tak terelakkan. Dengan meridian yang masih berdenyut di ambang batas, ia melangkah maju. Lantai tiga hanyalah panggung kecil. Audisi yang sebenarnya baru saja dimulai.