Spekulasi Energi
Bau ozon dan keringat basi menyengat hidung Aris saat ia melangkah keluar dari lift kristal menuju koridor Lantai Dua. Baru saja ia menginjakkan kaki di lantai yang seharusnya menjadi lambang kenaikan statusnya, sebuah segel energi berwarna merah pekat berdenyut di depan pintu kamarnya. Itu bukan segel penghuni biasa; itu adalah segel paksa milik sindikat 'Penguasa Jalur'.
“Selamat datang di Lantai Dua, Pendatang Baru,” suara berat menggema dari balik bayang-bayang pilar. Tiga pria dengan lencana besi sindikat melangkah maju, memblokir akses ke kamarnya. “Pajak energi untuk minggu ini sudah naik. Tiga puluh poin kultivasi, atau pintu ini tetap terkunci sampai meridianmu meledak karena kehabisan pasokan.”
Aris merasakan sensasi terbakar yang familiar di dasar meridiannya. Cakram hitam retak yang ia beli di pasar gelap terasa dingin di balik jubahnya, namun detak energinya mulai tidak sinkron dengan detak jantungnya sendiri. Ia tidak punya tiga puluh poin. Ia tidak punya satu poin pun setelah lelang tadi. “Aku tidak punya poin,” jawab Aris tenang, meski matanya memindai segel di pintu. “Tapi aku punya sesuatu yang kalian butuhkan.”
Salah satu preman tertawa sinis, tangannya mulai memancarkan percikan energi untuk mengintimidasi. “Omong kosong. Kau hanyalah anomali yang beruntung di audit lantai dua belas. Jangan kira kau bisa bernegosiasi di sini.”
Aris tidak menunggu. Ia tidak membuang waktu dengan kata-kata. Ia mengaktifkan Teknik Pernapasan Pasar Gelap, membiarkan pori-porinya terbuka lebar untuk menghisap energi limbah yang memancar dari segel pintu tersebut. Segel merah itu bergetar, energinya tersedot masuk ke dalam tubuh Aris, membuat meridiannya menjerit kesakitan namun sekaligus memberinya celah untuk mendobrak. Dengan satu sentakan bahu, ia menabrak pintu yang kini kehilangan kekuatannya. Pintu itu terbuka, dan Aris ambruk ke dalam kamarnya, napasnya tersengal di antara rasa sakit yang luar biasa.
Di dalam kamar yang pengap, Aris tidak punya waktu untuk beristirahat. Ia harus segera menstabilkan meridiannya sebelum kehancuran total. Ia meletakkan cakram hitam retak di atas meja kayu reyot. Namun, saat ia menyalurkan sisa poin kultivasinya untuk memicu efek penstabil artefak tersebut, cakram itu justru mengeluarkan dengung frekuensi rendah yang membuat pendengarannya berdenging.
Permukaan cakram yang retak tiba-tiba berpendar dengan cahaya biru pucat yang dingin. Simbol-simbol kuno yang tadinya tampak seperti goresan karat mulai bergerak, merambat keluar dari cakram dan berpindah ke dinding kamar, berpendar terang dalam kegelapan. Aris tersentak. Simbol-simbol itu tidak sekadar berpendar; mereka memetakan alur energi menara yang tidak pernah ia lihat di buku panduan mana pun.
Ketukan kasar di pintu kembali terdengar, kali ini lebih keras dan penuh ancaman. Pemimpin sindikat sudah kehilangan kesabaran. Aris menatap simbol-simbol yang kini memenuhi dinding kamarnya—sebuah kunci mekanisme menara yang selama ini tersembunyi. Ia menyadari satu hal: ia tidak bisa lagi bersembunyi. Untuk bertahan hidup dari sindikat dan menstabilkan meridiannya, ia harus melakukan pekerjaan kotor yang diatur oleh mereka. Aris berdiri, menatap pintu yang bergetar, dan bersiap untuk menyerahkan rahasia ini sebagai harga atas nyawanya sendiri.