Tangga yang Terbuka
Darah yang terasa seperti pecahan kaca mengalir di sepanjang meridian Aris, menolak untuk berhenti meski audit telah berakhir. Di atas panggung Arena Audit Lantai 12, napasnya tersengal, pendek dan tajam. Ia harus berdiri tegak. Satu tetes keringat dingin saja akan menjadi sinyal bagi para penguji untuk mencium bau teknik terlarang yang ia gunakan untuk memanipulasi sensor energi tadi.
"Luar biasa," suara Jia memecah kesunyian arena. Gadis itu melangkah maju, sepatu kulit mahalnya beradu dengan lantai batu yang retak. Senyumnya tipis, tidak menyentuh mata yang kini mengamati Aris seperti seorang ahli bedah yang sedang membedah spesimen aneh. "Hampir mustahil bagi seorang kultivator kelas sampah untuk menyerap energi limbah tanpa meledakkan diri. Apa yang kau gadaikan untuk bisa bertahan sedetik lebih lama di sini, Aris?"
Aris tidak menjawab. Ia memusatkan sisa energi limbah yang masih berputar liar di inti tubuhnya untuk menstabilkan detak jantungnya yang menggila. Rasa sakit itu seperti cakar yang merobek dinding dalam tubuhnya, namun wajahnya tetap datar. Ia menatap Jia dengan dingin, menyembunyikan getaran tangannya di balik lipatan jubah yang lusuh. "Aku hanya menukar apa yang tidak lagi diperlukan," jawabnya singkat. Suaranya serak namun stabil, cukup untuk memuaskan para penonton yang mulai berbisik di tribun.
Seorang petugas audit mendekat, menyerahkan segel akses lantai dua dengan tatapan curiga. Aris menerimanya tanpa ragu. Ia tahu Jia sedang mencatat pola energinya, menyimpannya sebagai data untuk kehancurannya di masa depan. Namun, ia tidak punya waktu untuk takut. Peringkatnya telah naik, dan di Kota Menara, kenaikan peringkat adalah satu-satunya pelindung dari pengusiran.
Langkah kaki Aris bergema di koridor transisi yang dingin. Kunci akses perunggu di tangannya terasa berat, bukan karena logamnya, melainkan karena beban ekspektasi yang kini melekat pada peringkat barunya. Di depan, pintu gerbang menuju lantai dua menjulang, materialnya hitam pekat, menyerap cahaya seolah menolak untuk membiarkan siapa pun masuk tanpa bayaran.
Baru saja ia menempelkan kunci pada sensor, dua sosok bertubuh tegap berpakaian seragam sindikat 'Penguasa Jalur' muncul dari balik bayang-bayang. "Pendatang baru," salah satu pria berambut cepak meludah ke lantai. "Lantai dua punya aturan main. Poin kultivasi yang kau bawa dari bawah tidak berlaku di sini. Serahkan tiga puluh persen dari cadangan energimu, atau kami pastikan namamu dicoret dari daftar hunian sebelum matahari terbenam."
Aris merasakan detak jantungnya berpacu, memicu denyut nyeri di meridiannya yang masih meradang. Menyerahkan energi berarti bunuh diri, namun menolak berarti pengusiran kembali ke lantai bawah. Ia tidak melawan dengan kekerasan. Sebaliknya, ia menatap mata si preman dan membisikkan satu informasi spesifik tentang kelemahan teknik pernapasan yang digunakan sindikat lantai dua—sebuah rahasia yang ia pelajari dari catatan limbah yang ia serap. Wajah si preman memucat seketika. Mereka mundur, memberinya jalan, namun tatapan mereka kini penuh dengan ancaman yang lebih dalam daripada sekadar pemerasan.
Aris segera menuju pasar gelap di sektor perdagangan. Suasana di sini mencekam; para kultivator kelas atas mengawasi setiap gerak-gerik pendatang baru. Matanya terpaku pada sebuah artefak berbentuk cakram hitam retak di nampan kayu. Energi yang memancar darinya tidak stabil, bergejolak liar seperti limbah beracun.
"Sampah dari reruntuhan bawah," bisik seorang pria di sampingnya. "Hanya orang bodoh yang mau membelinya."
Aris tidak menanggapi. Ia tahu persis apa yang dilihatnya. Bagi orang lain, artefak itu adalah rongsokan, tetapi baginya, retakan di permukaan cakram itu adalah saluran yang sempurna untuk menampung energi limbah yang terus merusak tubuhnya. Ia menggunakan taktik psikologis, merendahkan nilai artefak tersebut di depan peserta lain dengan menyebutnya 'beracun', hingga akhirnya ia membelinya dengan poin yang sangat terbatas.
Kembali ke kamarnya, pintu baja sudah ditandai dengan segel merah sindikat. Aris terengah-engah, butiran keringat dingin bercampur bercak darah mengalir dari sudut bibirnya. Di luar, langkah kaki berat para penagih pajak lantai dua mendekat. Mereka tidak datang untuk berdiskusi. "Buka pintunya, Tikus Lantai Bawah!" suara kasar itu bergema, disertai dentuman keras pada pintu baja yang mulai melengkung ke dalam.
Aris tidak menjawab. Ia menempelkan cakram tersebut ke dadanya, mengaktifkan teknik terlarang secara paksa. Saat ia menyerap energi dari artefak tersebut, resonansi aneh memicu sistem menara. Pintu menuju lantai dua terbuka lebar oleh sistem, namun di balik ambang pintu, sindikat lantai dua sudah menunggu dengan senjata terhunus, siap memanen meridiannya sebagai pajak atas kenaikan peringkatnya. Di saat yang sama, simbol kuno di permukaan cakram itu mulai berdenyut, memancarkan cahaya yang tidak dikenali oleh siapa pun di menara ini.