Keuntungan yang Berdarah
Jantung Aris tidak berdegup karena gugup; ia berdegup karena Teknik Pernapasan Pasar Gelap sedang mengoyak meridiennya dari dalam. Di ruang tunggu Arena Ujian Lantai 12, udara terasa berat, sarat dengan residu energi limbah yang dibuang oleh para kultivator elit. Bagi yang lain, udara ini adalah racun. Bagi Aris, ini adalah bahan bakar yang harus ia saring agar bisa bertahan di lantai ini satu musim lagi.
"Peserta 402, Aris. Maju ke titik audit," suara mekanis pengawas ujian memecah kesunyian.
Lantai batu di bawah kakinya bergetar. Setiap detak jantungnya kini terasa seperti jarum-jarum baja yang menusuk sumsum tulang. Di balik balkon pengawas, Jia berdiri dengan tangan terlipat. Matanya yang tajam menatap Aris tanpa berkedip, mencatat sesuatu di tablet kristalnya. Anomali pertumbuhan Aris dalam dua puluh empat jam terakhir telah terdeteksi oleh sistem pemantau.
Aris melangkah masuk ke lingkaran sensor audit yang berpendar biru pucat. Jika ia gagal menutupi jejak teknik terlarang yang ia gunakan, sistem akan mendeteksi ketidakstabilan energinya dan membatalkan status kultivasinya secara permanen. Ia sengaja melepaskan sedikit energi limbah yang telah ia saring, mengaburkan sinyal kultivasi aslinya. Sensor berkedip kuning, lalu hijau. Lolos. Namun, saat ia melangkah keluar, setiap detak jantungnya kini terasa seperti tusukan jarum yang nyata.
Arena Audit Lantai 12 berbau ozon dan keringat basi. Di tengah panggung, Kael—siswa elit yang sudah tiga tahun memonopoli jatah sumber daya lantai ini—menunggu dengan seringai meremehkan.
"Masih berani berdiri setelah kemarin hampir pingsan karena kelebihan dosis energi limbah?" ejek Kael. Tangannya mulai berpendar, memadatkan energi murni yang dibeli dari toko akademi kelas atas.
Aris tidak menjawab. Ia merasakan Teknik Pernapasan Pasar Gelap berdenyut di balik tulang rusuknya. Saat Kael melesat maju dengan serangan telapak tangan yang menghancurkan udara, Aris tidak menghindar. Ia justru melangkah masuk ke dalam radius serangan. Sesuai perhitungan, Aris mengaktifkan tekniknya. Aliran energi lawan yang murni namun kaku itu tersedot masuk ke dalam meridien Aris yang sudah terdistorsi. Aris merasakan sensasi terbakar yang luar biasa, namun ia memutarbalikkan energi tersebut, menyuntikkannya kembali ke titik lemah di bahu Kael.
Brak.
Kael tersungkur, napasnya tersengal seiring dengan energi yang terkuras habis.
Di atas balkon VIP, Jia menopang dagu dengan jari-jari lentik. "Dia menggunakan teknik pernapasan yang tidak terdaftar di arsip pusat," gumam Jia, suaranya tenang namun tajam. "Itu bukan teknik kultivasi standar. Itu adalah filter energi limbah, sesuatu yang seharusnya membakar meridiennya dalam hitungan menit." Pengawalnya bersiap untuk turun, namun Jia mengangkat tangan. "Biarkan dia naik. Jika dia menggunakan teknik terlarang, dia akan semakin terisolasi di lantai dua. Sindikat di sana tidak akan membiarkan 'parasit' seperti dia berkeliaran tanpa izin. Jika dia mati karena tekniknya sendiri, itu hanya akan membersihkan daftar peringkat kita."
Notifikasi sistem muncul di udara, berpendar biru pucat di hadapan Aris: [Audit Peringkat: Berhasil. Peningkatan Peringkat: +42. Akses Lantai 13 Terbuka.]
Aris tidak merasa menang. Ia merasa seperti sedang terbakar dari dalam. Setiap poin peringkat yang ia dapatkan terasa seperti luka baru di dinding pembuluh energinya. Saat ia melangkah menuju pintu akses, ia menyadari bahwa lantai atas bukan sekadar tempat tinggal yang lebih baik, melainkan medan perang yang jauh lebih mahal. Pintu menuju lantai dua terbuka, namun di baliknya, sindikat lantai dua sudah menunggu dengan harga yang harus dibayar. Jia menatap Aris dari balkon pengawas, matanya menyipit saat menyadari bahwa Aris bukan lagi kultivator gagal yang ia kenal.