Novel

Chapter 1: Hutang Lantai Bawah

Aris, yang terancam diusir dari Lantai 12 karena peringkat rendah, menukar artefak warisan terakhirnya dengan teknik terlarang di pasar gelap. Ia mulai menyerap limbah energi menara secara paksa, yang meningkatkan peringkatnya secara drastis namun dengan risiko fisik yang ekstrem, menarik perhatian rivalnya, Jia.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Hutang Lantai Bawah

Layar Peringkat Utama di Alun-alun Menara Lantai 12 berkedip, memantulkan angka 482 di samping nama Aris. Teks merah di bawahnya berdenyut, menghitung mundur sisa waktu: 03:59:12. Batas minimum peringkat untuk bertahan di lantai ini adalah 400. Jika Aris tidak melompat 82 peringkat sebelum lonceng audit berbunyi, ia akan dibuang ke Lantai Dasar—tempat di mana udara berbau karat dan harapan adalah komoditas yang tidak mampu ia beli.

Aris mengepalkan tangan. Di sekelilingnya, para siswa elit akademi—mereka yang memiliki akses ke suplemen energi murni—berjalan dengan dagu terangkat. Jia, sang primadona peringkat, berdiri di balkon pengawas. Ia tidak menatap Aris secara langsung, namun setiap kali ia melirik ke arah papan peringkat, sudut bibirnya terangkat dalam senyum tipis yang menghina. Bagi Jia, Aris adalah anomali yang harus segera dibersihkan dari sistem.

"Menyerahlah, Aris," suara dingin seorang pengawas memecah kebisingan alun-alun. "Poin kultivasimu sudah nol. Menggadaikan sisa waktu tinggalmu tidak akan mengubah fakta bahwa kau adalah kegagalan statistik."

Aris tidak menoleh. Ia tahu pengawas itu benar. Poin kultivasi adalah mata uang, dan ia telah bangkrut. Ia berbalik, melangkah menjauh dari pusat perhatian menuju labirin gang sempit di Sektor Bawah. Di balik jubahnya, ia mencengkeram satu-satunya aset yang tersisa: sebuah liontin giok retak warisan ayahnya. Artefak itu tidak lagi memancarkan cahaya biru murni, melainkan retakan hitam yang menandakan energi yang telah terkuras habis.

Pasar Gelap Sektor Bawah menyambutnya dengan aroma ozon yang tajam. Aris berhenti di depan kios seorang pedagang tua yang matanya tertutup kacamata mekanis.

"Aku butuh Teknik Pernapasan Pasar Gelap," ujar Aris, suaranya datar namun penuh determinasi.

Pedagang itu mendongak, menatap giok di tangan Aris dengan skeptis. "Itu teknik terlarang. Jika kau menyerap limbah energi menara dengan teknik itu, meridienmu bisa hancur. Kau punya sesuatu yang berharga untuk ditukar, atau kau hanya membuang waktuku?"

Aris meletakkan giok itu di atas meja. "Ini mengandung resonansi energi tingkat menengah. Cukup untuk memicu mesin pengolah teknikmu. Ambil, dan berikan aku gulungannya."

Pedagang itu memeriksa giok tersebut di bawah lampu gas. Setelah beberapa saat, ia melemparkan gulungan kulit kusam ke arah Aris. "Ingat, ini bukan kultivasi. Ini adalah tindakan menyedot sampah. Jangan salahkan aku jika kau meledak."

Aris tidak menunggu. Ia berlari ke gang paling gelap di balik Menara Sektor 12. Waktu terus berdetak: 00:15:00. Ia membuka gulungan itu. Seketika, aliran energi kasar yang kotor dan liar—sisa-sisa limbah kultivasi dari lantai-lantai atas—menyerbu masuk ke dalam tubuhnya. Teknik ini tidak menyaring energi; ia memaksa Aris menjadi filter hidup. Rasa sakit yang tajam seperti ribuan jarum panas merobek jalur meridiennya. Ia tersungkur ke tanah, menahan raungan yang ingin pecah.

Setiap tetes energi yang masuk terasa seperti racun, namun angka di panel transparan yang melayang di depan matanya mulai berkedip naik: 470... 450... 420.

Aris merasakan aliran energi asing yang menyakitkan mulai menjalar di nadinya saat ia mengaktifkan teknik terlarang. Di kejauhan, dari balkon pengawas, Jia menatap ke bawah. Matanya menyipit saat menyadari bahwa angka peringkat Aris mulai bergerak liar, dan untuk pertama kalinya, ia tidak lagi melihat Aris sebagai kultivator gagal yang bisa diabaikan.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced