Keputusan di Ambang Batas
Ruang kerja Bramantya di kediaman Aditama terasa seperti kotak kaca yang menekan dada. Di atas meja mahoni, map cokelat berisi bukti transaksi fiktif Aditama tergeletak—senjata yang mampu meruntuhkan reputasi pria itu dalam sekali tekan tombol kirim ke media. Aruna menatap bayangannya di jendela besar yang menghadap gemerlap lampu Jakarta. Gaun sutra yang ia kenakan terasa berat, bukan karena kainnya, melainkan karena beban dari apa yang ia pegang.
Bramantya melangkah masuk, melepas jasnya dengan gerakan tenang yang kontras dengan kekacauan di luar. Ia menuangkan minuman ke gelas kristal, punggungny
Preview ends here. Subscribe to continue.