Menghadapi Musuh Bersama
Lampu gantung kristal di ruang kerja pribadi Bramantya memantulkan cahaya dingin yang menusuk. Aruna meletakkan map berisi bukti transaksi fiktif Aditama di atas meja mahoni. Di luar jendela, Jakarta tampak tenang, namun di dalam ruangan ini, udara terasa berat oleh pengkhianatan yang siap diledakkan.
"Ini bukan sekadar umpan, Bramantya," ujar Aruna, suaranya datar namun tajam. "Jika aku menyerahkan dokumen ini sekarang, posisi Wijaya akan runtuh, tapi reputasimu akan ikut terseret dalam investigasi dewan direksi. Kau yakin ingin mengambil risiko itu?"
Bramantya berdiri di dekat jendela, bayangannya memanjang di lantai marmer. Ia menoleh, mat
Preview ends here. Subscribe to continue.