Sandiwara di Balik Pintu
Lampu kristal di ruang makan kediaman Bramantya berpendar dingin, memantul di atas permukaan meja marmer yang terasa lebih luas dari biasanya. Aruna duduk di ujung meja, memotong steak-nya dengan gerakan presisi—sebuah pertahanan diri yang ia pelajari demi menjaga martabat di depan publik. Di seberangnya, Bramantya menyesap anggur merah tanpa suara, matanya terkunci pada laporan keuangan yang tergeletak di samping piring perak.
"Kita tidak perlu bersandiwara saat pintu tertutup, Aruna," suara Bramantya memecah kesunyian. Ia meletakkan gelasnya dengan denting tajam. "Aku tidak butuh istri yang berperan sebagai pajangan. Ki
Preview ends here. Subscribe to continue.