Klausul yang Mengikat
Ruang kerja Bramantya di lantai empat puluh hotel ini tidak memiliki kehangatan. Hanya ada aroma kayu cendana yang tajam dan dengung halus sistem pendingin udara. Di atas meja mahoni yang mengilap, lembaran kontrak pernikahan itu terhampar—sebuah vonis yang dibungkus dalam bahasa hukum yang dingin.
Aruna menatap poin ketiga belas. "Klausul 'bukti hilang' ini tidak ada dalam pembicaraan kita di ballroom," suaranya datar, meski jemarinya yang mencengkeram tepi meja menunjukkan ketegangan yang ia tahan.
Bramantya berdiri di dekat jendela, membelakanginya. Bahunya tegap, seolah menopang beban seluruh
Preview ends here. Subscribe to continue.