Chapter 11
Lantai 4 tidak menyambut Aris dengan udara, melainkan dengan dengung frekuensi rendah yang menghantam tulang tengkoraknya. Begitu kakinya menapak di permukaan metalik, sistem menara tidak memproses kedatangannya sebagai pemain, melainkan sebagai infeksi.
Peringatan Sistem: Anomali terdeteksi. Sektor 4 terkunci. Pembersihan data dimulai.
Di atas kepalanya, papan skor publik—yang biasanya menampilkan daftar pendaki elit—berubah menjadi lampu sorot merah. Namanya, yang seharusnya tersembunyi di balik peretasan, terpampang dengan label 'BURUAN UTAMA'. Vanya tidak perlu lagi menebak lokasinya; ia hanya perlu mengikuti jejak digital yang ditinggalkan sistem. Aris merogoh saku, mencari artefak memori terakhirnya. Kosong. Ia baru sadar bahwa ia telah menukarnya demi akses masuk. Saat ia mencoba memanggil ingatan tentang wajah ibunya, yang ia temukan hanyalah kehampaan. Memori masa kecilnya telah terhapus, digantikan oleh baris kode mentah yang dingin. Ia bukan lagi pemuda yang berjuang demi keluarga; ia adalah kumpulan data yang sedang berjalan di atas tali tipis.
"Keluar, tikus," suara dingin Vanya membelah kesunyian koridor.
Vanya muncul di ujung lorong, diikuti oleh sekelompok pemanen bersenjata. Mereka bukan penjaga biasa; mereka adalah algojo elit yang ditugaskan membedah data Aris. Vanya menekan panel kontrol di dinding, memanipulasi topografi lantai. Dinding-dinding logam bergeser, menutup setiap celah pelarian. Aris merasakan tekanan sistem yang mencekik. Jika ia tertangkap, seluruh fragmen memori yang tersisa akan disita sebagai denda hutang. Ia menatap telapak tangannya yang gemetar. Ia masih memiliki satu sisa fragmen memori lantai yang ia curi dari Kael. Dengan satu gerakan nekat, Aris menyuntikkan fragmen tersebut ke dalam lantai. Dinding yang tadinya menutup jalan tiba-tiba bergetar, strukturnya terdistorsi menjadi labirin yang tidak berpola. Aris meloloskan diri, namun ia merasakan sensasi mati rasa menjalar di ujung jarinya—biaya sensorik yang harus ia bayar untuk meretas realitas lantai tersebut.
Ia berlari menuju Pasar Gelap, tempat pertemuan rahasianya dengan Kael. Lampu neon di sana berkedip tidak stabil. Kael berdiri di sana, jemarinya mengetuk meja besi dengan ritme cemas.
"Kau terlambat, Aris," ujar Kael tanpa menatapnya. "Pasukan Vanya sudah menyisir sektor ini. Mereka tahu kau di sini karena aku memberikan koordinatmu. Mereka berjanji menghapus hutang nyawaku jika aku menyerahkan chip aksesmu."
Aris tidak bergeming. Kehilangan memori masa kecilnya telah memangkas rasa takutnya. Ia hanya melihat data. Kael adalah variabel yang kini menjadi ancaman. Tanpa suara, Aris mengunggah virus memori—data korup yang ia curi dari Rute Terlarang—langsung ke antarmuka saraf Kael. Mata Kael membelalak, tubuhnya kejang saat ribuan baris kode yang tidak stabil mengambil alih sistem sarafnya. Kael tidak lagi punya pilihan; ia kini terikat pada perintah sistem Aris.
"Bantu aku menembus gerbang terakhir," perintah Aris datar. Kael, yang kini berada di bawah kendali virus tersebut, mengangguk kaku, memberikan kunci akses yang ia simpan.
Aris berdiri di tepian balkon logam, menatap cakrawala lantai yang luas. Ia menyadari kebenaran brutal: Menara bukan sekadar ujian, melainkan penjara bagi mereka yang tidak tahu cara meretasnya. Ia telah membuang sisa keraguannya. Di retina matanya, papan skor publik berkedip merah: Anomali Terdeteksi. Sisa waktu akses: 03:45. Puncak menara terlihat samar di kejauhan, namun ia tahu gerbang terakhir membutuhkan kunci yang hanya bisa didapat dengan mengalahkan sistem itu sendiri. Aris menatap tangannya yang kini bukan lagi milik manusia, melainkan milik sistem yang akan ia hancurkan dari dalam.